Ketika Guru Diminta Berbahasa Inggris: Antara Kompetensi Global dan Identitas Kebahasaan

Sabtu 23-05-2026,14:17 WIB
Oleh: Ni Wayan Sartini*

Sementara itu, bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, berfungsi sebagai jembatan menuju komunikasi dan kompetensi global. Masalahnya muncul ketika hubungan antarbahasa itu tidak lagi dikelola secara seimbang.

BACA JUGA:Guru di Era Multidinamika: Membangun Generasi Emas di Tengah Pusaran Perubahan

BACA JUGA:Guru… oh… Guru

Jika penggunaan bahasa Inggris di sekolah dimaknai secara berlebihan, misalnya, sebagai simbol kemajuan yang harus menggantikan bahasa lain, persoalannya tidak lagi sebatas pembelajaran bahasa. Ia mulai menyentuh wilayah prestise, identitas, bahkan politik bahasa.

Kita pernah menyaksikan bagaimana sebagian masyarakat memandang penggunaan bahasa Inggris sebagai tanda modernitas, kecerdasan, atau status sosial tertentu. Di ruang-ruang publik, terlihat lanskap linguistik seperti nama toko, slogan, iklan, bahkan percakapan sehari-hari sering kali lebih memilih istilah asing meskipun tersedia padanan bahasa Indonesia yang memadai. 

Dalam situasi seperti itu, bahasa bukan hanya alat komunikasi; bahasa juga menjadi simbol nilai dan prestise. 

Ketika sekolah ikut menguatkan persepsi bahwa bahasa Inggris adalah bahasa masa depan, sementara bahasa Indonesia hanya dipakai karena kewajiban administratif, kita patut bertanya: pesan kebahasaan apa yang sebenarnya sedang diwariskan kepada siswa? 

BACA JUGA:Guru sebagai Arsitek Peradaban

BACA JUGA:Memuliakan Kehidupan Guru

Kegelisahan itu makin relevan jika kita menengok nasib bahasa daerah. Banyak bahasa daerah di Indonesia menghadapi penurunan jumlah penutur, berkurangnya transmisi antargenerasi, dan menyempitnya ruang penggunaan. 

Di beberapa keluarga, anak-anak sudah tidak lagi fasih menggunakan bahasa ibunya sendiri. Jika sekolah juga makin memperbesar dominasi bahasa asing tanpa strategi yang bijak, bahasa daerah berpotensi kian terpinggirkan.

Namun, ketika melihat persoalan ini sebagai pertarungan antara bahasa Inggris melawan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, hal itu bukan jalan keluar yang produktif. Yang dibutuhkan bukanlah memilih satu bahasa dan meninggalkan bahasa lain, melainkan membangun ekosistem pendidikan bahasa yang berimbang. 

Bahasa Indonesia harus tetap menjadi fondasi utama pendidikan nasional. Kemampuan berpikir kritis, bernalar, menulis akademik, berdiskusi, dan membangun argumentasi perlu bertumpu pada penguasaan bahasa Indonesia yang kuat. Mustahil kita membangun generasi pembelajar yang kokoh jika fondasi literasi dalam bahasa nasional sendiri rapuh.

Pada saat yang sama, penguatan bahasa Inggris tetap penting sebagai kompetensi global. Namun, implementasinya perlu dilakukan secara realistis, kontekstual, dan bertahap. Guru tidak harus dipaksa menggunakan bahasa Inggris penuh dalam semua situasi pembelajaran. 

Pembiasaan dapat dimulai dari ungkapan sederhana, instruksi kelas, diskusi ringan, atau integrasi kosakata tertentu sesuai kebutuhan dan kesiapan sekolah. Pendekatan seperti itu jauh lebih sehat daripada menjadikan bahasa Inggris sebagai ukuran tunggal kualitas pendidikan.

Ada aspek lain yang tidak boleh diabaikan: kesiapan ekosistem pendidikan. Tidak semua sekolah memiliki kondisi yang sama. Guru di kota besar mungkin memiliki akses pelatihan, lingkungan praktik, dan sumber belajar yang lebih baik daripada guru di wilayah tertentu yang masih berjuang dengan keterbatasan sarana dasar. 

Kategori :