BACA JUGA:Bijak Terapkan Parenting di Era Gadget, Jangan Sampai Batasi Kreativitas Anak
Orang tua perlu membangun kepercayaan digital. Anak harus merasa bahwa ketika ia mengalami sesuatu yang buruk di internet, seperti bullying, ujaran kebencian, ia bisa bercerita tanpa langsung dihukum. Ini penting. Banyak remaja tidak melapor bukan karena tidak takut, tetapi karena lebih takut dimarahi orang tuanya.
Namun, kehangatan bukan berarti membiarkan. Aturan tetap perlu dibuat. Misalnya, tidak membawa HP saat makan, tidak memakai HP satu jam sebelum tidur, tidak membuka konten dewasa, tidak membagikan foto pribadi sembarangan, dan tidak bertemu orang asing dari internet tanpa sepengetahuan keluarga. Aturan seperti ini sebaiknya disepakati bersama. Remaja lebih mudah menerima batas jika ia ikut memahami alasannya.
Orang tua juga harus memberi contoh. Sulit meminta anak berhenti scroll kalau orang tua sendiri tidak lepas dari HP saat diajak bicara. Sulit meminta anak sopan di media sosial kalau orang tua mudah mencaci di grup WhatsApp. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari pemandangan sehari-hari.
Selain itu, keluarga perlu memperkuat dunia nyata. Remaja yang punya aktivitas fisik, teman nyata, hobi, olahraga, kegiatan seni, dan percakapan hangat di rumah akan lebih kuat menghadapi tekanan digital. Dunia online tidak boleh menjadi satu-satunya tempat ia merasa hidup.
Pada akhirnya, mengasuh remaja di era digital bukan soal bagaimana orang tua menjadi petugas keamanan terhadap gawai yang dipakai anaknya, melainkan juga memenangkan memenangkan kembali hati anak agar patuh dan percaya kepada orang tua.
Sebab remaja tidak hanya membutuhkan sinyal internet. Mereka membutuhkan sinyal kasih sayang yang diwujudkan melalui kesewdiaan orang tua mengetuk pintu kamarnya, duduk sebentar, lalu bertanya dengan lembut: “Kamu baik-baik saja?”. Semoga menjadi orantua yang sukses. !!!!
*) Dosen Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya