Pancasila di Dinding atau di Diri? Menakar Ulang Makna Setiap 1 Juni

Selasa 02-06-2026,12:24 WIB
Oleh: Suryanto*

BACA JUGA:Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila di Grahadi, Khofifah Tegaskan Jatim Jadi Miniatur Kerukunan Indonesia

BACA JUGA:Ekonomi Pasar Pancasila dan Harapan Kesejahteraan Bangsa

Masalahnya, banyak orang tahu bahwa jujur itu baik. Tetapi tetap saja berbohong. Mengapa? Karena pengetahuan moral belum tentu menjadi komitmen moral.

Kedua, perilaku sangat dipengaruhi lingkungan. Ini yang disebut norma subjektif. Kalau seseorang hidup di lingkungan yang menghargai kejujuran, ia cenderung terdorong jujur. Kalau ia berada di lingkungan yang menganggap gratifikasi kecil sebagai hal biasa, lama-lama ia bisa ikut menganggap itu biasa.

Begitu juga dengan Pancasila.

Kalau keluarga, sekolah, kampus, kantor, partai politik, dan lembaga negara sungguh-sungguh memberi contoh hidup Pancasilais, nilai itu akan menjadi norma sosial. Tetapi kalau lingkungan sosial membiarkan intoleransi, korupsi kecil, diskriminasi, manipulasi, dan penyalahgunaan kuasa, Pancasila akan kalah oleh kebiasaan buruk yang dianggap normal.

Ketiga, orang akan menjalankan nilai jika ia merasa mampu melakukannya. Ini disebut kontrol perilaku yang dirasakan. Banyak orang ingin jujur, tetapi takut disingkirkan. Banyak orang ingin melawan ketidakadilan, tetapi khawatir kehilangan jabatan. Banyak orang ingin bicara benar, tetapi merasa tidak aman.

Maka internalisasi Pancasila tidak cukup dengan ceramah. Tidak cukup dengan lomba pidato. Tidak cukup dengan hafalan lima sila.

Harus ada sistem yang membuat perilaku Pancasilais menjadi mungkin, aman, dan dihargai. Orang jujur harus dilindungi. Orang adil harus diberi ruang. Orang yang menolak korupsi jangan dikucilkan. Orang yang menjaga persatuan jangan dianggap lemah. Orang yang berbeda jangan diperlakukan sebagai musuh.

Di sinilah Pancasila memerlukan tiga jalan internalisasi.

Pertama, keteladanan. Nilai besar hanya akan dipercaya jika dihidupi oleh orang yang mengucapkannya. Anak tidak belajar Pancasila terutama dari buku. Anak belajar dari orang tua. Murid belajar dari guru. Warga belajar dari pemimpin. Pegawai belajar dari atasan.

Kalau pemimpin berbicara keadilan tetapi hidup jauh dari rasa kepantasan, rakyat akan sinis. Kalau tokoh bicara persatuan tetapi menyebarkan kebencian, nilai persatuan akan kehilangan wibawa. Kalau lembaga pendidikan mengajarkan moral tetapi membiarkan kecurangan, Pancasila tinggal menjadi mata pelajaran.

Kedua, pembiasaan. Pancasila harus menjadi kebiasaan kecil sehari-hari. Mengantre dengan tertib. Tidak menyerobot hak orang lain. Tidak menyebarkan hoaks. Menghormati pendapat berbeda. Tidak mempermalukan orang di ruang publik. Membantu tetangga. Berani meminta maaf. Berani mengakui salah. 

Hal-hal itu tampak sederhana. Tetapi justru di situlah Pancasila bekerja.

Pancasila tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Ia sering hadir dalam keputusan kecil: apakah kita memilih adil atau curang, menghargai atau merendahkan, mendengar atau memaksakan, membantu atau membiarkan. 

Ketiga, penguatan sistem. Negara tidak boleh hanya meminta rakyat Pancasilais. Negara juga harus menciptakan sistem yang Pancasilais.

Kategori :