Setiap 1 Juni, kita selalu ingat Pancasila. Setidaknya itu terjadi di sekolah atau di kantor pemerintah yang mengadakan upacara peringatan. Semua peserta biasanya tampak khidmat mendengarkan.
Tetapi setelah upacara selesai, pertanyaannya justru dimulai: apakah Pancasila benar-benar kita pakai sebagai pedoman hidup? Atau jangan-jangan Pancasila masih lebih sering menjadi hiasan dinding daripada menjadi bagian dari diri kita?
Kita hafal sila-silanya. Hampir semua orang hafal. Dari anak SD sampai pejabat tinggi. Tetapi bangsa ini tidak cukup hanya membutuhkan warga yang hafal Pancasila. Bangsa ini membutuhkan warga yang berperilaku Pancasila.
Di situlah persoalannya. Kita mengucapkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tetapi kadang kita menduakannya dengan kekuasaan atau uang.
Kita menyebut kemanusiaan yang adil dan beradab. Tetapi kekerasan verbal di media sosial seperti menjadi tontonan harian.
Kita menyerukan persatuan Indonesia. Tetapi perbedaan politik, agama, suku, dan pilihan hidup sering dijadikan alasan untuk saling curiga.
Kita bicara musyawarah. Tetapi dalam banyak ruang publik, yang menang sering bukan suara paling bijak, melainkan suara paling keras dan paling berpengaruh.
BACA JUGA:Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Presiden Prabowo Serukan Kemandirian Bangsa
BACA JUGA:KBRI Beijing Peringati Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Semangat Persatuan dan Perdamaian Dunia
Kita mengagungkan keadilan sosial. Tetapi masih banyak warga merasa keadilan hanya dekat kepada mereka yang punya uang, kuasa, dan akses.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah Pancasila masih relevan? Pancasila jelas relevan. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: apakah perilaku kita masih relevan dengan Pancasila?
Pancasila bukan sekadar dasar negara. Ia adalah dasar moral. Dasar batin. Dasar cara kita memperlakukan sesama.
Kalau Pancasila hanya berhenti sebagai teks, ia akan kering. Kalau hanya dibacakan saat upacara, ia akan menjadi rutinitas. Kalau hanya dijadikan jargon politik, ia akan kehilangan makna.
Pancasila harus turun. Dari dinding ke diri. Dari pidato ke perilaku. Dari hafalan ke kebiasaan. Dari simbol ke sistem nilai.
Dalam psikologi sosial, perubahan dari nilai menjadi perilaku tidak terjadi otomatis. Icek Ajzen, melalui Theory of Planned Behavior, menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh tiga hal: sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan.
Sederhananya begini. Pertama, orang akan melakukan sesuatu jika ia percaya bahwa tindakan itu baik. Ini disebut sikap terhadap perilaku. Seseorang akan bersikap jujur jika ia yakin kejujuran itu penting. Seseorang akan bertoleransi jika ia percaya toleransi membuat hidup bersama menjadi damai.