Konservasi telah menjadi bagian dari praktik peradaban Jawa jauh sebelum istilah tersebut dikenal dalam kebijakan modern.
Saatnya dibangun kembali kemitraan konservasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, komunitas lingkungan, dan Keraton Surakarta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Tujuannya tidak menghidupkan kembali pola penguasaan kawasan sebagaimana masa lampau, tetapi menghidupkan kembali semangat menjaga alam sebagai warisan bersama bangsa Indonesia.
Jika dahulu Donoloyo berkontribusi terhadap berdirinya bangunan fisik Keraton Surakarta, mengapa tidak diikhtiarkan kembali kini sebagai laboratorium konservasi ekosistem yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang?
Pada akhirnya, peradaban tidak hanya diukur dari seberapa megah istana yang berhasil dibangun ataupun seberapa banyak pusaka yang berhasil diwariskan. Peradaban diukur dari udara yang bersih, air yang jernih, tanah yang subur, dan satwa yang tetap lestari. (*)
*) Tandya Tjahjana adalah pemerhati budaya dan lingkungan serta sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian LHK (2020-2024).
*) Probo Darono Yakti adalah dosen hubungan internasional, FISIP, Unair, dan ketua Budaya Nusantara Seni Tradisi Lokal.