DALAM presentasinya di Seminar dan Workshop Sejarah Publik di Universitas Airlangga pada awal Juni lalu, guru besar Universitas Carleton, Kanada, David Dean, mengatakan bahwa praktik ”bersejarah di ruang publik” sebenarnya telah ada di berbagai masyarakat selama berabad-abad di negara-negara yang berada di selatan (Global South).
Sayang, disiplin akademik yang berkembang itu kemudian terasosiasi dengan Global North sejak abad ke-19 dan ke-20. Meskipun ia pun menolak adanya superioritas disiplin keilmuan sejarah publik berasal dari Barat, harus diakui tema sejarah itu kurang akrab di kalangan akademisi Indonesia.
Dean menegaskan bahwa sejarah publik memang bukan hanya tentang menghadirkan masa lalu ke dalam kehidupan masa kini, melainkan juga tentang menemukan praktik-praktik sejarah publik yang telah lama hidup dalam berbagai budaya.
Sejarah publik di sini didefinisikan sebagai sejarah yang hadir di ruang publik dan melibatkan masyarakat luas. Berbeda dengan sejarah akademik yang umumnya diproduksi di universitas, sejarah publik berlangsung lebih membumi seperti melalui museum, televisi, teater, wisata sejarah, media daring, hingga tradisi kuliner.
BACA JUGA:Menghidupkan Sejarah di Tengah Banjir Konten
BACA JUGA:Tren Sejarah Takkan Terbendung: Reunifikasi Kedua Tepi Selat Taiwan Pasti Terwujud
Pandangan tersebut tentu saja seperti menampar sejarawan akademik yang seringkali memproduksi historiografi yang kaku dan mungkin membosankan. Padahal, masyarakat lebih butuh sajian sejarah yang mudah dipahami.
Tidak semuanya suka membaca buku dan hasil penelitian yang rumit. Apalagi, hampir setiap tahun indeks membaca masyarakat Indonesia tidak selalu meningkat secara signifikan.
Sejarah publik akhirnya menjadi solusi sekaligus jembatan transmisi pengetahuan yang ketat secara ilmiah dan kemampuan memahami masyarakat terhadap sejarah karena cenderung lebih kolaboratif dan interdisipliner dibandingkan sejarah akademik. Masih menurut Dean, keterlibatan berbagai pihak dalam proses produksi dan interpretasi sejarah menjadi kelebihannya.
Akan tetapi, sejarah terkadang tidak selalu penting bagi tiap orang. Beberapa juga bahkan meremehkan. Dan, di sini justru letak permasalahannya. Sejarah publik kemudian hanya berpotensi top-down melalui lembaga negara.
BACA JUGA:Gandrung Sewu: Dari Sejarah yang Alamiah Menjadi Sejarah yang Manusiawi
BACA JUGA:Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe
Tantangan
Perkembangan sejarah publik di Indonesia, secara teoretis dan konseptual, sering kali belum mengaitkan dengan beberapa kajian yang lain seperti museumologi, senimatografi, dan beberapa yang lain. Selain itu, komunitas, penggiat sejarah, wartawan, dan beberapa profesi terkait sangat mungkin tidak mengerti tentang disiplin keilmuan sejarah publik itu sendiri.
Padahal, sejarah publik tersebut penting karena secara detail melihat sekaligus secara kritis menafsirkan dan menghadirkan masa lalu ke dalam kehidupan masa kini, selain juga mengeksplorasi praktik-praktik sejarah publik yang telah lama hidup dan ternegoisasi dalam berbagai budaya.