Masyarakat umum, terutama gen Z atau bahkan gen alfa, juga tidak berpotensi menjadi korban narasi sejarah yang tidak tepat. Buku dibalas dengan buku, film direspons dengan film, narasi dikritik dengan narasi; memang menjadi hal yang penting.
Tapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana agar penyajian sejarah berbasis kaidah ilmiah, bukan ala kadarnya, apalagi mengikuti kebencian atau egoisme semata.
Pekerjaan rumah untuk mendorong sejarah publik tidak dapat dihindarkan. Deklarasi pembentukan Asosiasi Sejarah Publik Indonesia beberapa minggu lalu di Universitas Airlangga diharapkan bisa mengakselerasi kemampuan komunikasi dan kolaborasi banyak pihak secara kelembagaan.
Ide, waktu, dan sumber daya tentu sangat dibutuhkan bersama untuk mengembangkan partisipasi masyarakat dalam penyajian dan penyebaran sejarah dengan cara yang ilmiah dan dapat diterima secara luas. (*)
*) Arya Wanda Wirayuda, dosen Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unair.