DALAM sebuah tulisan tentang realitas generasi Z, Suko Widodo menggunakan istilah dalam bahasa Jawa yang sangat menarik, yaitu kontrang-kantring, untuk menggambarkan situasi yang mereka hadapi (Harian Disway, Selasa, 21 Juli 2026). Istilah itu digambarkan sebagai seseorang yang berjalan tanpa arah yang jelas, kebingungan menentukan tujuan di tengah begitu banyak pilihan.
Realitas yang terasa relevan dengan kehidupan generasi yang tumbuh dalam arus digital: informasi melimpah, perubahan berlangsung sangat cepat, tetapi kepastian justru makin sulit ditemukan.
Realitas itu kemudian mudah dibaca sebagai persoalan generasi Z. Mereka dianggap terlalu bergantung pada gawai, mudah cemas, kurang tangguh, hingga kehilangan kemampuan bersosialisasi.
Namun, bagaimana jika kesimpulan itu terlalu tergesa-gesa? Bagaimana jika istilah kontrang-kantring tidak hanya menggambarkan satu generasi, tetapi juga masyarakat yang makin kehilangan ruang untuk saling menggandeng? Jangan-jangan yang sedang kita hadapi bukan krisis generasi Z, melainkan krisis komunikasi antargenerasi.
BACA JUGA:Generasi Digital yang Kontrang-kantring
Hari ini kita memasuki periode kehidupan ketika manusia paling mudah terhubung. Teknologi komunikasi membuat dalam hitungan detik orang-orang dapat mengirim pesan, berbagi pengalaman, bahkan membangun jejaring lintas negara.
Paradoksnya, di balik konektivitas itu, ruang-ruang perjumpaan justru makin susut. Kita kian mudah berkomunikasi, tetapi makin jarang benar-benar bercakap. Kita makin banyak memiliki koneksi, tetapi makin sedikit membangun kedekatan.
Barangkali, realitas yang sedang kita hadapi bukanlah generasi Z yang kontrang-kantring, melainkan masyarakat yang kehilangan ruang untuk saling menggandeng. Persoalannya bukan karena perbedaan generasi itu sendiri, melainkan karena komunikasi antargenerasi makin jarang terjadi.
Ketika percakapan digantikan algoritma dan perjumpaan digantikan layar, pengalaman tidak lagi diwariskan melalui dialog. Kita mungkin justru sedang menjadi masyarakat yang terhubung, tetapi terputus.
BACA JUGA:Ketika Manusia Menjadi Robot: Meneruskan Pemikiran Suko Widodo tentang Generasi Kontrang-kantring
Komunikasi yang Membangun Kesalingpahaman
Selama ini banyak orang memahami komunikasi sebagai proses menyampaikan pesan. Selama pesan dikirim dan diterima, komunikasi dianggap telah selesai. Cara pandang seperti itu tidak sepenuhnya keliru.
Itu merupakan model komunikasi di era awal keilmuan. Perspektifnya memang memang banyak menjelaskan komunikasi sebagai proses transmisi pesan dari pengirim kepada penerima.
Dalam diskusi antar keilmuan, tahun 1950-an Wilbur Schramm meluaskan perspektif tersebut dengan memandang komunikasi lebih dari sekadar perpindahan informasi. Baginya, komunikasi adalah proses membangun commonness, yaitu ruang kesalingpahaman yang memungkinkan orang berbagi makna, pengalaman, dan cara pandang.
Itu membuat komunikasi tidak berhenti ketika pesan sampai kepada penerima, tetapi ketika kedua pihak mulai memahami satu sama lain. Dalam pengertian itulah, komunikasi tidak hanya membuat informasi bergerak, tetapi juga membangun hubungan antarmanusia.