Simsalabim Cerdaskan Kehidupan Bangsa

Selasa 28-07-2026,14:56 WIB
Oleh: Muchammad Syuhada’*

”MENCERDASKAN kehidupan bangsa”. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata dalam Pembukaan UUD 1945. Ia adalah janji negara kepada setiap warga bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi jalan menuju kemajuan. 

Namun, janji itu terasa getir ketika Perpustakaan Nasional (Perpusnas) terpaksa menghentikan distribusi buku ke berbagai daerah lantaran pemotongan anggaran. 

Di negeri yang masih berjuang meningkatkan budaya baca, buku justru menjadi salah satu korban efisiensi. Ironinya, yang dipangkas bukan sekadar anggaran, melainkan akses masyarakat terhadap pengetahuan. 

Pertanyaannya sederhana, jika buku tak lagi mampu menjangkau desa-desa, taman bacaan, dan ruang-ruang belajar masyarakat, bagaimana negara dapat memenuhi amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Jangan-jangan, yang sedang kita hemat bukan sekadar belanja negara, melainkan masa depan generasi Indonesia.

Ketika Buku Menjadi Korban Efisiensi

Efisiensi anggaran memang bukan sesuatu yang keliru. Dalam kondisi fiskal yang terbatas, pemerintah dituntut menyusun skala prioritas agar setiap rupiah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika yang harus dikorbankan adalah akses masyarakat terhadap pengetahuan. 

BACA JUGA:Gubernur Khofifah Ajak Guru TK Muslimat NU Kabupaten Malang Terus Produktif Mencerdaskan Generasi Bangsa

BACA JUGA:Kecerdasan Buatan Dituding Bikin Manusia Makin Tidak Cerdas: Pekerjaan Kian Ringan, Otak Ikut Kosong

Perpustakaan Nasional menjadi salah satu institusi yang merasakan dampaknya. Pagu anggaran yang semula sekitar Rp721,6 miliar pada 2025 turun menjadi sekitar Rp377,9 miliar pada 2026 atau berkurang hampir separuh. 

Konsekuensinya tidak berhenti pada angka-angka di dalam dokumen APBN. Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminudin Aziz menyampaikan bahwa lembaganya tidak lagi mampu melanjutkan program distribusi buku ke berbagai daerah karena keterbatasan anggaran. 

Pernyataan tersebut bukan sekadar kabar administratif, melainkan sinyal bahwa ruang belajar masyarakat ikut menyempit.

Dampaknya menjalar ke berbagai lapisan. Taman bacaan masyarakat (TBM) kehilangan tambahan bahan bacaan, perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, dan berbagai komunitas literasi yang sebelumnya menerima distribusi buku dari Perpusnas kini harus bertahan dengan koleksi yang ada. 

BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Mengisi Ruang Sepi Manusia: Indonesia Lebih Terbuka Pada ’’Pacar AI’’

BACA JUGA:Seni di Antara Manusia dan Kecerdasan Buatan

Sesungguhnya yang terputus bukan hanya rantai distribusi logistik, melainkan rantai pemerataan kesempatan belajar bagi jutaan warga negara. Kesempatan anak-anak di daerah terpencil menemukan jendela baru melalui bacaan. 

Kategori :