Amanat itu menuntut keberpihakan nyata terhadap akses pengetahuan yang merata bagi seluruh warga negara.
Sebab, bangsa yang besar tidak hanya diukur dari kemampuannya membangun infrastruktur, tetapi juga dari kesungguhannya memastikan setiap anak, di kota maupun di pelosok negeri, memiliki kesempatan yang sama untuk membaca, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Menghemat anggaran mungkin dapat memperbaiki neraca keuangan negara, tetapi mengurangi investasi pada literasi berisiko meninggalkan utang yang jauh lebih mahal, yakni hilangnya kesempatan mencerdaskan generasi bangsa. (*)
*) Muchammad Syuhada’ adalah dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).