Dari Like, Subscribe, dan Share Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Selasa 28-07-2026,22:26 WIB
Oleh: Sukarijanto*

Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditandingi negara lain di kawasan. Populasi lebih dari 280 juta jiwa, pengguna internet yang sangat besar, penetrasi media sosial yang tinggi, serta ekosistem e-commerce terbesar di Asia Tenggara menjadikan Indonesia kandidat paling kuat untuk menjadi pusat ekonomi digital ASEAN.

Masalahnya bukan terletak pada pasar. Masalahnya terletak pada tata kelola. Negara selama ini terlalu fokus mendorong pertumbuhan ekonomi digital, tetapi relatif lambat membangun sistem pengukuran dan administrasinya. Akibatnya, pertumbuhan berlangsung cepat, tetapi kontribusi fiskalnya belum optimal.

Karena itu, kewajiban NIB bagi kreator konten sebaiknya tidak dipahami sebagai upaya mempersulit masyarakat mencari nafkah. Justru sebaliknya. Kebijakan ini merupakan proses pendewasaan ekonomi digital Indonesia. 

Ketika sebuah profesi menghasilkan pendapatan, menciptakan nilai tambah, dan menjadi sumber penghidupan, maka profesi tersebut layak memperoleh pengakuan formal sekaligus memikul tanggung jawab sebagai bagian dari sistem ekonomi nasional.

Negara yang modern bukan negara yang memajaki semua orang secara berlebihan. Negara yang modern adalah negara yang mampu mengetahui di mana aktivitas ekonomi berlangsung dan memastikan setiap pelaku ekonomi berkontribusi secara adil sesuai kapasitasnya.

Pada akhirnya, persoalan NIB bagi kreator konten bukan sekadar soal administrasi usaha. Ini adalah pertarungan antara kecepatan algoritma dan kecepatan negara dalam beradaptasi. Jika negara terlalu lambat, nilai ekonomi digital akan terus tumbuh tanpa pernah benar-benar menjadi sumber kekuatan fiskal nasional. 

Namun, jika dilakukan secara proporsional, sederhana, dan tidak memberatkan, kebijakan ini dapat menjadi titik awal transformasi ekonomi digital Indonesia dari sekadar ruang kreativitas menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan PDB dan penerimaan negara pada dekade mendatang. (*)

*) Sukarijanto adalah pemerhati kebijakan publik dan peneliti di Institute of Global Research for Economics, Entrepreneurship, & Leadership.

 

Kategori :