HARIAN DISWAY - Kesuksesan film The Odyssey garapan Christopher Nolan kembali memanaskan perdebatan.
Paling panas soal praktik casting multiras di industri perfilman. Kritik ramai beredar di media sosial. Bahkan dari tokoh publik.
Tapi banyak pihak memiliki penilaian berbeda. Keberhasilan film tersebut justru menjadi bukti. Bahwa kualitas sebuah karya tidak ditentukan oleh ras para pemerannya.
Pandangan tersebut mengingatkan kembali pada pendekatan Peter Brook, sutradara teater legendaris asal Inggris.
BACA JUGA:Film The Odyssey Dongkrak Penjualan Novel Homer hingga 700 Persen di Inggris
BACA JUGA:Matt Damon Dipuji Tampil Fenomenal dalam The Odyssey, Disebut Sejajar dengan Legenda Hollywood
Brook sejak puluhan tahun lalu telah mengusung konsep pemeran multikultural. Khususnya dalam pementasan karya-karya klasik.
Robert Pattinson (paling kiri) dan Zendaya (paling kanan) dalam premiere The Odyssey di London, 6 Juli 2026.-Carlos Jasso-AFP
Pada 1988, Brook mementaskan kisah epik Hindu The Mahabharata di kawasan Adelaide Hills, Australia. Ia melibatkan para aktor dari berbagai negara dan latar belakang etnis.
Produksi tersebut kemudian dipentaskan di berbagai kota dunia. Termasuk Avignon dan New York. Serta mendapat pujian luas sebagai salah satu karya teater paling berpengaruh.
Kritikus The Guardian Michael Billington bahkan menyebut pementasan Brook sebagai "epik filosofis luar biasa."
BACA JUGA:Epos The Odyssey, di Balik Kepahlawanan Ada Peran Besar Perempuan
BACA JUGA:Bukan Cuma Cyclops, Ini 7 Monster dan Makhluk Mitologi dalam The Odyssey Karya Christopher Nolan
Pertunjukan itu mampu menghadirkan refleksi mendalam. Terutama terkait kehidupan, kematian, dan kemanusiaan.
Perdebatan mengenai The Odyssey mencuat setelah Elon Musk ikut angkat bicara. Ia mengomentari pilihan pemeran dalam film Christopher Nolan itu.