Mitos 'Buku dari Barat': Arkeologi Pengerdilan dan Genealogi Hegemoni

Minggu 16-08-2026,07:33 WIB
Oleh: Ida Nurul Chasanah*

Seperti diabadikan dalam puisi Helvy, para raksasa literasi kita –Pramoedya, Mochtar Lubis, Chairil Anwar, HAMKA, Rendra, hingga Nh. Dini –dihadang oleh ”satpam literasi” dan ”panitia” yang mempertanyakan kecukupan dan objektivitas karya mereka, hanya karena mereka tumbuh dan berakar dari tanah air sendiri. 

Padahal, khazanah literasi dan bahasa bangsa menyimpan pisau analisis lebih presisi untuk membedah masalah sosiologis dan psikologis masyarakat kita sendiri daripada teori-teori perkotaan Barat yang sering dipaksakan.

Genealogi Hegemoni: Inlander Mentality dan Kapitalisme Akademis

Melalui metode genealogi, sebagaimana dipetakan Foucault dalam Discipline and Punish, kita diajak membongkar bagaimana power/knowledge (kekuasaan/pengetahuan) saling menopang. Pengetahuan diproduksi untuk melayani kekuasaan, dan kekuasaan menentukan apa yang boleh disebut sebagai pengetahuan.  

Berdasar hal tersebut, muncullah sebuah pertanyaan, mekanisme kekuasaan apa yang memaksa pejabat publik dan lembaga pendidikan kita merasa harus terus berkiblat ke Barat? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilacak pada kondisi poskolonial yang akut. 

Secara fisik, kolonialisme telah usai. Namun, struktur kesadarannya belum sepenuhnya runtuh. Imbauan pejabat negara untuk selalu berkiblat ke Barat adalah reproduksi dari mentalitas inlander. 

Helvy menyindir hal itu dengan bait yang amat getir: ”Alangkah sibuknya / bangsa yang ingin cerdas / dengan cara mencurigai bahasanya sendiri.”

Kondisi itu diperparah oleh kapitalisme publikasi dan biokekuasaan akademis. Hari ini rezim otoritas ilmu pengetahuan dikontrol oleh lembaga indeksasi global yang berbasis di Barat. 

Melalui metrik dan standar global, diterapkanlah sistem disipliner yang secara halus mengharuskan para akademisi dan pembuat kebijakan untuk mengutip serta mengorientasikan pemikirannya ke Barat demi meraih legitimasi. 

Ketergantungan struktural itu melahirkan elite terpelajar yang mengalami ”kelumpuhan lokal”, generasi yang fasih memperdebatkan filsafat Eropa, tetapi gagap dan buta ketika harus membaca akar persoalan kebudayaan dan hak asasi manusia di rumahnya sendiri.

Mendorong Pemberontakan Pengetahuan Lokal

Michel Foucault pernah memperkenalkan konsep insurrection of subjugated knowledges, yaitu pemberontakan pengetahuan-pengetahuan yang terasingkan. Hal tersebut menegaskan bahwa literasi tak harus berkiblat ke Barat tidak berarti kita membakar buku-buku pemikir Barat secara naif atau menutup diri dari sains modern. 

Helvy Tiana Rosa menggarisbawahi secara elegan: ”Barat bukan dosa. / Timur bukan jimat. / Terjemahan bukan musuh. / Lokal bukan barang diskon / di rak belakang peradaban.” Poin utamanya adalah mencabut status Barat sebagai ”kiblat tunggal”.

Literasi karya bangsa, dari tradisi lisan, babad, suluk, pantun, gurindam, hingga karya drama, novel, dan puisi kontemporer, adalah sumber daya epistemologis yang sangat kaya. Khazanah itu menyimpan jawaban atas krisis kemanusiaan dan ekologis yang justru gagal dijawab oleh rasionalisme dingin Barat. 

Sudah saatnya para pejabat publik dan elite akademis menyadari jebakan poskolonialisme dan menghentikan sikap orientalistis itu. Indonesia harus berhenti menjadi sekadar pengecer wacana asing. 

Jangan sampai, seperti penutup puisi Helvy, kita membiarkan rumah sendiri hanya menjadi catatan kaki di bawah sepatu Barat. 

Kategori :