Kemudian, dalam sektor pelayaran nasional, sektor angkutan laut dinilai menjadi tulang punggung distribusi antarwilayah Indonesia.
Peningkatan aktivitas logistik memerlukan penguatan kapasitas armada nasional yang sejalan dengan kemampuan industri galangan kapal dalam negeri. Lagi-lagi, itu merupakan potensi bisnis maritim yang memiliki prospek positif dan menjanjikan.
Penguatan ekosistem industri galangan kapal sangat penting dilakukan. Hal tersebut mencakup integrasi rantai pasok bahan baku dan komponen, kesiapan peralatan dan teknologi produksi, regulasi yang mendukung, kompetensi sumber daya manusia, skema pendanaan, serta infrastruktur logistik yang efisien. Penguatan seluruh komponen tersebut menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional.
Dari sisi pelabuhan, juga perlu ada pengoptimalan. Menurut data Kementerian Perhubungan RI, Indonesia memiliki lebih dari 2.000 pelabuhan yang tersebar di seluruh wilayah. Untuk mendukung kegiatan logistik laut, sekitar 100 pelabuhan berfungsi sebagai pelabuhan peti kemas aktif.
Dari fakta itu, potensinya sangat besar untuk dikembangkan secara maksimal sebagai penopang utama ekonomi negara.
Selanjutnya, untuk memperkuat ekonomi maritim negara, Indonesia memiliki potensi besar yang harus dimaksimalkan dalam tata kelolanya. Tentunya, ekonomi kelautan atau ekonomi maritim bukan sekadar perikanan tangkap.
Namun, ada sebelas sektor ekonomi kelautan, yaitu perikanan budi daya, perikanan tangkap, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi (ESDM), pariwisata bahari, hutan bakau, perhubungan laut, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, industri dan jasa maritim, dan SDA nonkonvensional. Potensi pengelolaan sektor tersebut tentunya menghasilkan benefit untuk kemakmuran negara.
Maka, perlu dilakukan strategi dalam mengelola potensi industri maritim di negeri ini agar lebih bergairah. Indonesia sebagai negara maritim sangat berpotensi menjadi negara maju karena potensi maritimnya dikelola dengan maksimal.
Kekuatan sejarah seperti Majapahit dan Sriwijaya sangat maju dan kuat di dunia karena berhasil mengelola kekuatan maritimnya. Dengan demikian, ada beberapa strategi.
Pertama, memperkuat sinergi. Pada konteks ini, sinergi antarpelaku maritim, sektor pendidikan, industri maritim, dan penunjang lain serta pemerintah harus diperkuat. Sinergi itu akan mampu menjaring problem dan menemukan solusi untuk terus berkembang.
Di sinilah kebangkitan industri maritim nasional lahir. Dari sini, jangan ada lagi perusahaan yang fokus pada industri maritim justru pailit dan sebagainya. Jika sinergi itu diperkuat, potensi kemajuan industri maritim di negeri ini akan selalu terjaga.
Kedua, memperkuat jejaring maritim. Pada tahap ini, jejaring sangat diperlukan sebagai modal untuk memperkuat posisi industri maritim dan pengembangannya. Perubahan yang cepat harus selalu diikuti dan disikapi dengan cepat pula.
Sebab, jika tidak, akan mengalami ketertinggalan yang sangat merugikan. Jejaring yang kuat akan mampu memberikan kemudahan dan terbukanya peluang besar. Kebangkitan industri maritim akan mudah jika jejaring kuat.
Ketiga, memperkuat TKDN (tingkat komponen dalam negeri). Pada tahap ini, tentu merupakan peluang yang harus direalisasikan. Tahapan-tahapan harus jelas. Sektor maritim jika diperkuat dengan implementasi TKDN akan mampu mengangkat perekonomian nasional bangsa.
Saat ini mayoritas komponen penunjang industri kapal, misalnya, masih impor. Tentu hal tersebut harus segera dicarikan solusi agar TKDN makin tinggi. Era revolusi industri 4.0 membuka peluang besar meningkatkan TKDN.
Keempat, pacu kerja 4.0. Di sini berarti harus ada kolaborasi, kecepatan kerja, berdampak pada hasil yang berkualitas dan bermanfaat, SDM yang unggul serta proses digital mewarnai proses produksi, pemasaran, dan proses kerja.