Berjualan sempol bukan pekerjaan hina. Menjaga toko juga bukan pekerjaan hina. Menjadi pengemudi, petani, pedagang, pekerja kreatif, atau pelaku UMKM bukan kegagalan seorang sarjana.
Pertanyaan yang benar bukan: ”Mengapa sudah sarjana kok jualan sempol?” Melainkan: ”Apa bedanya sempol yang dikelola seorang sarjana dengan sempol yang dijual tanpa sentuhan pengetahuan?”
Kalau seorang sarjana mampu membuat produknya lebih higienis, membangun merek, mengembangkan pemasaran digital, mengelola pembukuan, membaca perilaku konsumen, menggunakan AI untuk promosi, membangun sistem distribusi, membuka cabang, kemudian mempekerjakan orang lain, gelar sarjananya tidak sia-sia.
Justru di situlah pendidikan menemukan maknanya. Pendidikan seharusnya memberikan nilai tambah pada apa pun yang dikerjakan seseorang.
Karena itu, kita perlu berhenti mengukur keberhasilan pendidikan tinggi hanya dari pertanyaan: ”Lulus sarjana bekerja di mana?” Kita perlu menambahkan pertanyaan yang lebih penting: ”Setelah kuliah, nilai apa yang mampu ia ciptakan?”
Tiga Kepentingan yang Tidak Otomatis Bertemu
Di sini kita menemukan persoalan berikutnya. Ada tiga kepentingan besar dalam pendidikan tinggi kita saat ini. Mahasiswa membutuhkan masa depan. Dunia kerja membutuhkan kompetensi. Perguruan tinggi membutuhkan mahasiswa. Ketiganya sah.
Anak muda datang ke kampus dengan harapan kehidupannya menjadi lebih baik. Perusahaan merekrut lulusan karena membutuhkan orang yang mampu bekerja dan menyelesaikan masalah.
Sementara itu, perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi swasta (PTS), membutuhkan mahasiswa agar institusinya dapat terus hidup dan berkembang.
Masalahnya terjadi ketika tiga kepentingan itu tidak lagi bertemu. Kampus mengatakan: ”Mari kuliah.” Mahasiswa menangkap pesan: ”Kalau saya kuliah, masa depan saya akan terjamin.” Empat tahun kemudian dunia kerja mengatakan: ”Kami tidak membutuhkan ijazah Anda saja. Kami juga membutuhkan kemampuan Anda.”
Nah, di situlah terjadi expectation gap. Bukan hanya antara perguruan tinggi dan industri. Namun, juga antara janji pendidikan dan realitas kehidupan.
Kampus Juga Harus Berani Becermin
Perguruan tinggi tidak boleh hanya menyalahkan dunia industri. Kampus harus berani melakukan introspeksi. Ketika persaingan memperoleh mahasiswa makin ketat, terutama di kalangan PTS, godaan terbesar adalah menjadikan pendidikan sebagai komoditas.
Promosinya kemudian lebih mengarah ke: Biaya murah, cepat lulus, bisa sambil bekerja, beasiswa tersedia, fasilitas bagus, atau segera daftar mumpung ada keringanan.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Promosi memang harus kreatif dan menarik. Namun, jangan sampai kita lupa menjawab pertanyaan yang justru paling penting bagi seorang calon mahasiswa, yaitu ”kalau saya menyerahkan empat tahun kehidupan saya kepada kampus ini, saya akan berubah menjadi manusia seperti apa?”
Itulah pertanyaan seluruh calon mahasiswa yang sesungguhnya. Dan, kampus masa depan tidak cukup menjual program studi. Kampus harus menawarkan transformasi manusia.