BACA JUGA:Cara Pantau Abu Vulkanik Anak Krakatau Lewat HP, Bisa Cek MAGMA Indonesia
BACA JUGA:8 Bandara Masih Ditutup, Abu Anak Krakatau Dipantau Tiap 30 Menit
Gunung Ili Lewotolok juga memiliki kondisi geologi yang khas. Gunung tersebut berada di dekat batas proses subduksi yang telah berakhir.
“Kondisi itu menyisakan struktur geologi berupa robekan pada lempeng slab yang tersubduksi sehingga mengakibatkan tersedianya pasokan magma,” papar Haris.
Perbedaan kondisi tersebut membuat setiap gunung api memiliki perilaku yang tidak seragam.
Ada gunung yang terus menunjukkan aktivitas, sementara gunung lain dapat berada dalam kondisi tidak aktif selama waktu yang sangat panjang.
Magma Seperti Cairan Bersoda
Kepala Departemen Geofisika ITS itu menjelaskan, dapur magma dapat dibayangkan sebagai ruang berongga besar di dalam bumi. Ruang tersebut menjadi tempat berkumpulnya material batuan cair atau magma.
Di dalam magma terdapat fluida dan uap air. Tekanan dari kandungan gas tersebut dapat meningkat ketika magma terus mendapat suplai dari bagian bumi yang lebih dalam.
Haris mengibaratkannya seperti minuman bersoda yang berada dalam botol tertutup.
“Semakin tingginya tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” tuturnya.
Sebaliknya, ketika suplai magma berhenti dan aktivitas tektonik tidak lagi memberikan pemicu, kantong magma dapat mengalami pendinginan secara perlahan.
BACA JUGA:Bandara Ngurah Rai Tetap Buka, 5 Penerbangan Jakarta-Bali Batal akibat Abu Anak Krakatau
BACA JUGA:Abu Anak Krakatau Bikin Sekolah PJJ, Penyaluran MBG Ikut Dihentikan Sementara
Proses tersebut berlangsung sangat lama dan memungkinkan mineral tertentu membentuk kristal.
“Sehingga aktivitas vulkanik gunung tersebut lambat laun akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus memicu letusan,” beber Haris.
Erupsi juga dapat dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya guncangan gempa bumi tektonik yang memberikan tekanan tambahan terhadap kantong magma yang sudah penuh.