Karena itu, setelah Jombang, pertanyaan paling penting bukan siapa yang menang dalam muktamar. Pertanyaan yang lebih penting adalah ”apakah NU mampu mengubah kemenangan kontestasi menjadi kemenangan peradaban?”
Jika mampu, muktamar ke-35 akan dikenang bukan karena pergantian kepemimpinan, melainkan karena menjadi titik balik ketika NU benar-benar mulai bekerja untuk abad keduanya. Jika gagal, sejarah mungkin hanya akan mencatatnya sebagai satu lagi pergantian pengurus dalam siklus lima tahunan.
Jombang telah memberikan mandat. Kini waktunya membuktikan khidmah. Dan, ukuran akhirnya sederhana dan itu bukan seberapa besar NU berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan seberapa besar masyarakat merasakan manfaat dari keberadaan NU. Semoga! (*)
*) Bustomi adalah mahasiswa Program Doktoral FISIP Universitas Airlangga dan pengurus LTN PWNU Jatim.