Mungkin geopolitik juga begitu.
Negara besar sering bertanya:
”Kamu bunga saya atau bunga dia?”
Indonesia tidak perlu tergesa-gesa menjawab.
Kita bukan bunga milik siapa-siapa.
Kita juga bukan vas kosong yang boleh diisi siapa saja.
Indonesia justru harus menyusun rangkaiannya sendiri.
Boleh ada bunga dari Washington.
Boleh ada dari Beijing.
Boleh ada dari New Delhi.
Boleh juga dari BRICS.
Yang penting, jangan karena terlalu sibuk memilih bunga, kita lupa memegang vasnya.
Sebab, dalam pertunangan, salah bunga paling-paling dimarahi keluarga.
Dalam geopolitik, salah meletakkan satu tangkai, bisa-bisa orang lain yang akhirnya membawa pulang vasnya. (*)