Candu Gim Intai Anak-Anak (2): Fitur Kontrol Masih Longgar

Senin 05-10-2026,14:00 WIB
Reporter : Ilmi Bening
Editor : Mohamad Nur Khotib

Lama bermainnya paling banyak 1-2 jam. Itu terdengar wajar. Yang main lebih dari enam jam: 1,1 persen. Kecil. Tahun lalu malah 8,1 persen. Satu persen memang terdengar sepele. Tapi, anak-anak begitu sulit berhenti. Pasien terbanyak laki-laki.

BACA JUGA:UT Surabaya Gelar FGD Wisata Edukasi di Kampung Lali Gadget, Gandeng Pemkab Sidoarjo Atasi Kecanduan Gawai

BACA JUGA:Anak Sering Berkelahi dan Kecanduan Game? Menhan Dukung Dedi Mulyadi Siapkan Pembinaan di Barak TNI

"Dari bentuk atau tipe permainannya juga berbeda. Anak laki-laki saja kalau bermain mobil-mobilan bisa sendirian. Maka, penggunaan gawai harus dibatasi sejak dini, terutama pada usia yang masih kecil," jelas Sista.

Lalu bagaimana kasus terparah? Emosi si pemain diluapkan lewat gim. Lalu kepada orang lain. Sampai membayangkan sedang menembak orang.

Pada tahap itulah gim bukan lagi sekadar hiburan. Justru berubah menjadi tempat melampiaskan segalanya. Pihak keluarga yang paling dulu merasakan akibatnya.

Itu bisa memicu gejala skizofrenia (early onset). Malas buang air. Keseharian berantakan. Kementerian Komdigi memang sudah meluncurkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

BACA JUGA:Roblox Terapkan Verifikasi Usia dan Hapus Fitur Komunikasi, Patuhi PP Tunas

BACA JUGA:YouTube Terapkan Batas Usia dan Setop Iklan untuk Anak, Patuhi PP Tunas


GRAFIS APJII terkait survei gim daring di Indonesia dan daftar gim favorit pengguna internet.-Arya Firman-Harian Disway

Aturan itu membatasi gim untuk anak di bawah umur: kontrol bermain dan fitur tertentu. Pemerintah memang sudah melangkah dengan bagus. Tapi, kecanduan tetap bisa terjadi. Celahnya masih ada.

Aturan hanya menjadi pagar. Yang berperan krusial menjaga anak-anak tetaplah para orang tua. Kontrol diri harus terus dibangun, tidak bisa tumbuh begitu saja. "Pola asuh orang tua dan lingkungan sosial akan memengaruhi. Ketika kontrol diri sudah cukup, mereka akan tahu mana yang salah, benar, dan diperbolehkan," kata Sista.

Artinya, orang tua wajib melek teknologi. Tahu apa yang dimainkan anak. Tahu apa yang dilihat anak di ponselnya. Tentu agar bisa ikut memahami dunia yang sedang dijalani anak-anak. Kalau tidak, PP Tunas hanya kertas tak akan banyak gunanya.

Moonton, pengembang Mobile Legends, sebenarnya sudah bergerak. Mereka baru saja merilis Moonton Youth Care pada  September 2026. Yakni fitur kontrol orang tua, pembatasan fitur akun, dan jam bermain untuk anak di bawah umur.

BACA JUGA:Tujuan Mulia PP Tunas Komdigi Jangan Sampai Menyingkirkan Anak dari Sisi Positif Ruang Digital

BACA JUGA:PP Tunas Berlaku, Dindik Jatim Terbitkan Aturan Pembatasan Gawai di SMA dan SMK

Kategori :