Cerita dari Rumah Baru untuk Korban Erupsi Semeru (1)

Cerita dari Rumah Baru untuk Korban Erupsi Semeru (1)

Atap merona di Griya Semeru Damai, rumah untuk korban dampak erupsi Gunung Semeru.-Mohamad Nur Khotib-Harian Disway-

Gunung Semeru mengalami erupsi pada 4 Desember 2021 silam. Ratusan orang meninggal dunia. Ribuan rumah ambruk terguyur guguran awan panas. Tentu itu masih menyisakan trauma mendalam bagi warga yang terdampak. Namun, luka itu bisa sedikit terobati dengan bantuan yang mereka terima: hunian baru.

 

RUMAHKU adalah surgaku. Begitu bunyi pepatah tersohor. ’’Surga-surga’’ itu rupanya bisa diciptakan. Bahkan tak memakan waktu lama. Hanya butuh kurang lebih tiga bulan.

 

Area perkebunan seluas 81 hektare di Dusun Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro itu digarap. Atau lebih tepatnya: disulap menjadi area perumahan. Namanya: Griya Semeru Damai. Area surga baru untuk para warga terdampak erupsi Semeru.

 

Total sudah ada 1.951 unit rumah dibangun. Warnanya seragam. Apabila dipotret dengan kamera drone lebih jelas. Atapnya merah serona anggur. Dengan tembok dominan putih.

 

Setiap rumah punya dua bagian: depan dan belakang. Bagian depan seluas 6x6 meter. Dinding antar ruang full tembok bata ringan. Berisi ruang tamu, 2 kamar, dan 1 toilet dengan WC duduk. 

 

Sementara bagian belakang hampir sama. Punya luas 6 x 4 meter. Untuk dapur, kamar mandi, dan satu kamar. Namun, beberapa bagian disekat dengan tripleks. Hanya beberapa lain saja yang ditembok.

 

Sedangkan, jalan utama perumahan itu sebagian sudah tuntas. Bukan aspal hitam atau paving. Tapi cokelat seperti beton. Diiringi dengan pepohonan yang menjulang tinggi di bahu jalan. 

 

Jarak antar rumah pun tak terlalu jauh. Hanya sepelemparan batu. Sekitar 2 meter saja. Namun, ada bagian yang belum selesai. Sebagian gorong-gorong di beberapa blok itu masih terbuka. 

 

Ya, memang proses pengerjaan ribuan unit rumah itu belum tuntas sepenuhnya. Baru 446 unit yang sudah sempurna. Sisanya, 1.475 unit, masih tahap penyelesaian. Lalu ada 30 unit belum dikerjakan.

 

Namun, perumahan itu sudah dihuni. Yakni oleh 125 KK pertama pada 27 April lalu. Yang lain akan segera menyusul usai Lebaran. 

 

“Karena kami ingin hunian tetap ini benar-benar siap,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi. Terutama bagian akses jalan dan kelengkapan lainnya. Juga sarana-prasarana lain seperti masjid dan lain-lain.

 

Penghuni pertama Griya Semeru Damai itu menempati beberapa blok. Dari blok A1 sampai F1. Sebagian mereka dikumpulkan dengan tetangga lamanya. Sebagian lagi dicampur dengan tetangga desa.

 

Ya, penghuni pertama itu adalah mereka yang tinggal di posko pengungsian. Terutama di posko pengungsian lapangan Desa Penanggal. Lalu bakal menyusul untuk pengungsi yang tinggal di rumah kontrakan atau saudara.

Jajaran rumah yang disediakan untuk korban erupsi Gunung Semeru.
Foto: Mohamad Nur Khotib-Harian Disway

 

Tidak semua dari 125 KK itu sudah tinggal di tempat tersebut. Hanya beberapa warga yang mulai boyongan dari pengungsian. Sedangkan yang lain masih terpaksa tinggal di posko pengungsian. Meski sudah memegang kunci rumah itu.

 

Alasannya pun macam-macam. Ada yang karena masih menunggu pembersihan. Ada yang karena menunggu kerabat lain yang masih belum dapat kunci. Namun, pada intinya, mereka bersyukur mendapat ganti rumah baru itu.

 

Apalagi, kata Patria, rumah lama yang terdampak tetap menjadi hak milik warga. Mereka tetap boleh beraktivitas di desa mereka kembali. Dengan syarat tak boleh menjadikan rumah lama itu sebagai tempat tinggal. “Bagaimanapun, rumah lama mereka sudah masuk zona merah,” kata Patria. 

 

Para warga pun masih sesekali datang ke rumah lamanya. Mengambil berkas-berkas penting hingga barang sisa-sisa kenangan. Itu tetap diizinkan. 

 

Bahkan warga boleh berdagang di tempat yang lama itu. Namun, tetap tak boleh beraktivitas 24 jam di sana. Demi keamanan mereka sendiri.

 

Salah satunya yang kerap dilakukan Suryadi. Warga Desa Kajar Kuning itu sudah mendapat kunci rumah di blok D1-10. Namun, ia belum boyongan permanen ke rumah barunya. Masih membereskan apa yang tersisa di rumah lamanya.

 

Sementara warga yang belum mendapat kunci rumah baru harus sabar sebentar. Seperti yang dialami Imam Syafi’i. Tetangga desa Suryadi itu mengontrak rumah bersama keluarganya di Desa Penanggal. “Katanya setelah Lebaran baru dikasih. Ini kami masih menunggu. Semoga bisa cepat,” katanya. (Mohamad Nur Khotib)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: