Dikejar Waktu, RSUD Soewandhie Bangun Delapan Lantai dalam 3,5 Bulan

Dikejar Waktu, RSUD Soewandhie Bangun Delapan Lantai dalam 3,5 Bulan

SATU-satunya megaproyek yang dipertahankan Pemkot Surabaya hanya cancer center di RSUD Soewandhie. Nyaris semua proyek besar dicoret karena anggaran APBD difokuskan untuk penanganan pandemi. Masalahnya, durasi pembangunan gedung baru RS tipe A itu sangat singkat.

Proyek senilai Rp 161 miliar itu baru dilelang Mei. Tidak biasanya pemkot begitu. Proyek besar idealnya dilelang awal tahun atau di akhir tahun sebelumnya. Dengan begitu, waktu proyek bisa lebih panjang. 

Namun pemkot tidak punya pilihan. Anggaran belanja dan pendapatan tidak seimbang di awal 2021. Duit pemkot banyak tersedot untuk penanganan Covid-19. Sementara pajak daerah menurun drastis akibat lesunya ekonomi.

Meski lelang agak telat, Pemkot dan PT PP akhirnya menandatangani kontrak 6 September lalu. Kontraktor langsung memanfaatkan waktu yang minim itu dengan memasang tower crane untuk melanjutkan proyek lantai 6-8. “Pokoknya sampai akhir Desember harus selesai,” kata Kabid Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Surabaya Iman Krestian kemarin (14/9).

Persoalan lainnya adalah cuaca.  Surabaya sudah memasuki awal musim penghujan. Bahkan, hujan lebat dan angin kencang datang hampir setiap sore atau malam. 

Proyek tahap pertama dikerjakan pada 2019-2020. Gedung baru RSUD Soewandhie setinggi 5 lantai sudah digunakan. Manajemen RS memakai gedung itu untuk penambahan bed pasien dan ruang operasi. Keberadaannya sangat membantu penanganan gelombang kedua Covid-19 Juni lalu.

Tahun ini, akan ada penambahan ruang rawat inap di lantai 6. Rinciannya: 1.152 meter persegi untuk non VIP/VVIP dengan total 40 bed. Sementara itu, ruang VIP/VVIP memakai area seluas 446 meter persegi. Isinya hanya 6 bed.

Lantai 7 digunakan sebagai ruang manajemen, komite medik, ruang server, serta area kantor. Sementara di lantai paling atas akan ada gedung serbaguna, guest house, skill lab dan perpustakaan. Di tiga lantai itu akan ada penambahan masing-masing 33 slot parkir untuk mobil. Jika gedung parkir sudah tuntas, maka kapasitas parkir RS menjadi 400 sepeda motor dan 200 mobil.

Parkir memang menjadi salah satu persoalan utama di RSUD Soewandhie. Jalan raya di sekeliling RS dipakai untuk parkir sepeda motor. Sementara slot untuk mobil sangat terbatas. 

Selain itu, kontraktor juga harus membangun penghubung antara gedung baru dan lama.  Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) RS juga masuk di proyek tahun ini.

Lalu bagaimana dengan pengadaan alat kesehatannya? Pemkot belum memasukkannya di website lelang. “Kayaknya tahun depan. Sekarang anggarannya terbatas,” ujar arsitek jebolan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Rencananya, ada tambahan dua alat radioterapi sekunder. Penambahan dilakukan karena pasien yang membutuhkan radioterapi bisa mengantre selama empat bulan untuk mendapatkan penanganan tersebut.

Ada juga tambahan 20 bed khusus untuk pasien cuci darah yang saat ini hanya tersedia 4 unit. Dengan adanya penambahan signifikan itu, pemkot berharap antrean bisa dipangkas. Sebab penanganan mereka sejatinya tidak boleh ditunda. (Salman Muhiddin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: