Sapuan Awal yang Menentukan

Sapuan Awal yang Menentukan

Tak begitu saja abstrak dicapai. Ia dimulai dari proses yang tak segampang rupanya. Pun apa yang tergambar. Bukan figur atau objek tertentu yang harus diwujudkan. Namun rasalah yang ’berbicara’. Seperti abstrak di tangan Leli Kamal.

Konon, inspirasi kerap turun ketika malam menjelang. Begitu pun dengan mood. Itulah waktu terbaik bagi Leli untuk berkarya. Jika inspirasi itu datang, dia langsung mengambil kuas dan menorah goresan pertama. ”Sebab yang pertamalah hampir selalu berhasil, apalagi bila muncul inspirasinya,” ungkapnya.

Seperti ketika menghasilkan Waltz on The Water yang mendapatkan penghargaan dari sebuah challenge di Perancis pada 2020. Lukisan itu diselesaikan Leli hanya dalam tempo semalam. Tercipta begitu dia mendapat ide mengaktualisasikan hatinya yang sedang gembira. ”Inget banget. Saya melukisnya sekitar jam 11 malam. Sekali menarik garis, langsung berhasil,” ungkapnya.

Rahasia abstrak -menurutnya- sangat ditentukan oleh sapuan kuas awal. Bila berhasil, maka goresan selanjutnya tinggal mengikuti. Tapi tak hanya itu, banyak yang perlu diperhatikan dalam abstrak. Tentang teknik cipratan, misalnya. ”Kita harus mengetahui posisi tangan dan sudut pelemparan cat yang tepat untuk menerka tumpahan warna. Tak bisa sembarangan,” tegasnya.

Begitu juga dengan teknik sapuan. Seorang pelukis abstrak harus menguasai derajat kemiringan kuas dan lain-lain. ”Lebih-lebih jika menggunakan cat air. Jika tak dipikirkan betul, maka efek yang dihasilkan tak sesuai dengan yang kita pikirkan,” ungkap ibu dua anak itu.

Hal lain yang tak kalah untuk diperhitungkan matang-matang adalah finishing. ”Jika semua sudah bagus, paduan warnanya terlihat sangat baik. Iibarat peribahasa bisa karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” ungkapnya. Maka, setelah memperhatikan arah bias air setelah lukisan mengering, peletakan aksentuasi dan sebagainya menjadi tahap akhir yang penting.

Tampak rumit ya. Namun Leli tak kapok menekuni abstrak. Memang seolah susah dipahami dan dimengerti. Namun dia terpikat lantaran bicara abstrak berarti bicara rasa. Bukan bicara objek atau bentuk. ”Kadang orang-orang hanya sekadar menyukai abstrak dari segi komposisinya. Tapi tak mengerti artinya. Itu tak masalah. Hayati saja,” ujarnya.

Seolah mudah, namun abstrak sejatinya penuh tantangan. Tak seperti anggapan orang bahwa abstrak hanya permainan bidang, pengaturan warna, corat-coret dan sebagainya. ”Kemampuan melukis abstrak terbentuk dari penguasaan media, komposisi, teknik dan rasa. Juga tak selamanya abstrak identik dengan ketiadaan objek,” ungkapnya.

Objek dalam abstrak bukan sama sekali tiada atau kosong. Namun kehadiran objek ada dalam bayangan atau imajinasi manusia yang muncul ketika melihat lukisan tersebut. Leli lalu memberi contoh. Ketika hendak melukis bunga lotus, maka yang dibayangkan bukan objeknya semata dengan daun, kelopak, dan air sebagai tempat tumbuhnya.

”Saya lebih berpikir bagaimana mengekspresikannya dengan warna-warna dominan pada tanaman itu. Seperti pink di kelopaknya, putih untuk air, hijau untuk daun. Semua menjadi bagian dari warna utama dalam lukisan,” katanya. 

”Bisa melalui torehan sapuan kuas atau letaknya. Jadi, meskipun tak dapat dilihat bahwa itu adalah objek lotus, tapi dari warna-warnanya, penikmat dapat memandang wujudnya lewat komposisi,” lanjut perempuan kelahiran Semarang itu.

Lewat karya-karya itu, Leli mengurai tema kehidupan dan nuansa alam. Seperti After The Rain yang memuat paduan warna yang mencitrakan keadaan usai hujan. Dengan warna biru dan putih sebagai perwujudan nuansa hujan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: