Kontainer Tak Lagi Langka

Kontainer Tak Lagi Langka

BANYAK pengusaha mengeluhkan fenomena kelangkaan kontainer selama pandemi. Sirkulasi peti kemas tidak lancar karena lalu lintas orang dan barang di berbagai negara diperketat. Terutama saat ada negara yang di-lockdown. Untungnya, situasinya kini berangsur pulih.

”Saya koordinasi dengan beberapa teman pelayaran, sudah hampir tidak ada masalah,” ujar Ketua DPC Indonesia National Ship-owners Association (INSA) Surabaya Steven H Lasawengen kemarin (24/10). Sebelumnya, Steven dan kawan-kawannya terimbas kelangkaan kontainer itu.

Barang ekspor tidak bisa dikirim ke luar negeri tanpa kontainer. Selain alasan lockdown di berbagai negara, kelangkaan terjadi karena operator pemilik kontainer adalah perusahaan global. Sehingga mereka tidak mudah diatur oleh pemerintah.

Sebagai tindakan logis, operator pelayaran kontainer dunia menyusutkan jumlah kapal yang beroperasi. Sempat terjadi kelangkaan kapal gara-gara keputusan itu.

Kebangkitan Tiongkok dari pandemi Covid-19 juga jadi pendorong. Mereka menggenjot ekspor besar-besaran ke berbagai negara. Mengutamakan logistik dan distribusi produk mereka. Kontainer yang tiba di negara tujuan langsung ditarik kembali untuk kebutuhan dalam negeri mereka.

Indonesia yang menjadi market besar Tiongkok kena imbas itu. Kontainer yang seharusnya bisa dipakai untuk mengirim barang ke Tiongkok jadi langka.

”Kargo outgoing dari Tiongkok tidak lagi memuncak. Otomatis sirkulasi kontainer bagus,” ujar Steven. Tiongkok tak lagi menarik kontainernya setelah tiba di Indonesia. Ekspor dari Indonesia bisa difasilitasi.

Kelangkaan kontainer juga disebabkan oleh kongesti di berbagai pelabuhan besar di Singapura, Inggris, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Waktu tambatan kapal jadi sangat lama.  Steven melihat persoalan itu masih terjadi. ”Tapi tidak separah sebelumnya,” ujarnya.

Dua bulan lalu antrean kapal di Singapura bisa sangat panjang. Barang yang harus dikirim bisa tertahan 3 bulan di laut.  Kelangkaan kapal makin parah. Analoginya seperti bus yang tertahan di terminal selama tiga bulan. Penumpang yang menunggu di terminal jadi menumpuk dan tidak terangkut.

Ongkos pengiriman jadi meroket. Misalnya kontainer 40 kaki ke Amerika Serikat yang biasanya bisa disewa dengan USD 2.000 (Rp 28,46 juta), angkanya naik sampai USD 22.000 (Rp 313 juta). Naik 11 kali lipat. Sewa kontainer ke Eropa yang biasanya USD 1.500 (Rp 21,3 juta) juga naik jadi USD 7.500 (Rp 106 juta).

Ekspor Indonesia akan memuncak jelang Natal dan Tahun baru nanti.  Permintaan batu bara, garmen, produk makanan, pertanian dari negara dingin meningkat. ”Mudah-mudahan Natal dan Tahun baru nanti tidak ada kelangkaan. Kita lihat awal November nanti,” kata wakil ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim itu.

 

Kepala Pengelola Export Centre Surabaya Thomas Stefanus Kaihatu belum mendengar kabar kelangkaan kontainer sudah mereda. Sebab, pekan sebelumnya kelangkaan masih dirasakan pengusaha. ”Tapi kalau Pak Steven yang sampaikan, itu kabar valid. Beliau juga wakil ketua Kadin bidang kemaritiman,” kata Tommy, panggilan akrabnya.

Pekan lalu pengusaha memang masih merasakan kelangkaan kontainer itu. Salah satu rekannya yang hendak mengekspor makanan dan minuman dari Pasuruan mengeluhkan harga sewa kontainer yang masih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: