Meralda Gunawan Promosi Kampung Pecinan Kapasan Dalam

Meralda Gunawan Promosi Kampung Pecinan Kapasan Dalam

Meralda Gunawan, salah satu finalis Koko Cici Jawa Timur 2021, menyempatkan diri mengeksplorasi Kampung Pecinan Kapasan Dalam.

Kampung ini dipenuhi dinding-dinding yang dipenuhi mural bercerita tentang budaya Tionghoa. Pintu masuknya bukan sekadar gerbang layaknya perkampungan pada umumnya. Melainkan berornamen naga. Ada pula area kuliner sebagai pusat aktivitas bagi masyarakat setempat.

Meralda datang untuk mengabadikan beberapa momen penting sekaligus menceritakan kampung yang diresmikan pada 10 November 2020 tersebut.

”Sengaja dipakai nama kampung karena untuk mempertahankan keaslian lingkungan di sini. Tembok rumah semuanya dibubuhi mural seputar Tionghoa. Masyarakatnya ramah-ramah dan menyenangkan untuk diajak ngobrol,” katanya.

Ditemani oleh seorang warga, Meralda Gunawan didampingi berjalan-jalan. Dia melihat sejumlah bangunan dengan nilai sejarah tinggi. (Meralda Gunawan untuk Harian Disway)

Ditemani oleh seorang warga, Meralda didampingi berjalan-jalan. Ia melihat sejumlah bangunan dengan nilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah sebuah balai cukup tinggi dengan kondisi yang tampak usang.

Bangunan itu dulunya merupakan lokasi masyarakat TIonghoa setempat menyembunyikan para pejuang yang terluka saat maraknya pertempuran pada masa lampau. Di bawahnya terdapat sebuah bunker. Namun saat ini situs tersebut sudah tertimbun tanah.

Balai itu terbuat dari kayu jati. Atapnya berbahan seng. Usianya kurang lebih sudah lebih dari satu abad. Pintunya digembok dan ada cor-coran semen di bawah sehingga masyarakat tidak bisa mengakses ke dalam. Pada sebuah foto dokumentasi, bangunan ini terlihat ikut terpotret sebagai latar belakang dalam foto bersama puluhan orang berseragam pasukan pada 1965. Ring basket pun sudah ada pada tahun itu.

Sebelumnya bangunan kayu itu pernah dijadikan sebagai ’markas’ karang taruna setempat. Terakhir, tempat itu pernah digunakan balai pengobatan. Itu tampak dari papan yang terpasang di atas pintu masuk.

Sedangkan sisi samping-belakang bangunan sudah menyatu dengan padatnya rumah warga. Tak banyak aktivitas dilakukan di sekitarnya. Namun, balai ini tetap jadi rujukan bagi pengunjung pecinta sejarah.

Gerbang pintu masuk dinamai Long Men atau gerbang naga. Bentuknya seperti pintu masuk yang biasa ditemui di Negeri Tirai Bambu. Tinggi menjulang dengan ornamen naga tepat berada di atasnya. Ini sekaligus menjadi penanda karena warnanya yang mudah menarik perhatian.

Di dekatnya, terdapat banyak sekali warga setempat yang menjajakan makanan. Semua diorganisir dengan baik agar menjadi sentra kuliner. ”Sebelumnya masyarakat jualan di depan rumah. Kemudian setelah diresmikan jadi kampung wisata, mereka berjualan di sini. Bukanya dari sore sampai malam. Semua jenis kudapan dapat ditemukan. Tidak hanya masakan oriental,” tukasnya lagi.

Meralda sekaligus menceritakan tentang bekas kebakaran yang terjadi pada 2018. Kala itu, setidaknya 17 rumah ludes dilalap api. Selain itu, dua kendaraan bermotor turut hangus.

Kebakaran merambat dengan cepat karena mayoritas bangunan masih berbahan kayu. Diperparah dengan kondisi hunian berdempet satu sama lain. Tragedi tersebut disebut sebagai salah satu kebakaran terbesar di Surabaya pada tahun tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: