Robets Bayoned dan Djadi Galajapo Jenguk Maestro Ludruk Cak Sapari

Robets Bayoned dan Djadi Galajapo  Jenguk Maestro Ludruk Cak Sapari

Djadi Galajapo dan Robets Bayoned menjenguk Cak Sapari yang terbaring sakit-Robets Bayoned untuk Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Seniman ludruk legendaris Surabaya, Cak Sapari, tengah terbaring sakit. Penggiat ludruk, Robets Bayoned dan seniman Djadi Galajapo datang menjenguknya. Robets tergerak untuk mengadakan pementasan charity untuk Cak Sapari

Sekitar pukul 7 malam, 17 Juni, penggiat ludruk Roberts dan Djadi mendatangi rumah Cak Sapari di kawasan Simomulyo baru. Saat itu Cak Sapari terbaring lemah, mengenakan kaus kutang. Sedikit menoleh kepada dua orang yang datang tersebut. “Sopo iki?,” tanyanya. Ia bertanya tentang mereka yang datang. 

Belum sempat Robets dan Djadi menjawab, Cak Sapari tahu tentang keduanya. “Oalah, koen ta,” ungkapnya. “Nggih Cak. Niki kulo, Robets,” ujar Robets, menunjukkan dirinya datang. Kemudian ia meletakkan kepalanya di dada Cak Sapari. Orang yang ia anggap gurunya itu. 

Nggih Cak. Niku Robets. Lha nek kulo rosokan,” sahut Djadi. Ia bergurau, bahwa yang datang adalah Robets. Sedangkan ia rongsokan. 

Cak Sapari pun tersenyum. Kemudian terdiam dan tampak hendak menangis. Terharu. “Wes, ojok nangis. Kudu seneng. Disambangi anak-anakke kok nangis,” tambah Djadi. Ia mengimbau agar Cak Sapari tak usah menangis, karena anak-anaknya datang untuk menjenguk. 

Bagi Robets dan Djadi, Sapari adalah tokoh ludruk yang jadi guru mereka berdua. “Saya mulai belajar ludruk ketika SMA. Kemudian tahun 2011 dapat kesempatan manggung bareng Banyolan Kartolo di JTV. Langsung main tanpa latihan,” ungkap Robets. 

Pendiri grup ludruk Luntas itu menyebut bahwa Sapari adalah senior ludruk yang luar biasa. “Tak pernah menggurui. Membebaskan kita untuk berkreasi dan tidak membatasi. Kami seperti ayah dan anak,” ujar pria 45 tahun itu. 

Senada, Djadi juga menyebut bahwa Sapari merupakan tokoh ludruk yang nyedulur. Tak membeda-bedakan siapa pun dan menganggap semua orang adalah saudara. “Cak Sapari ini telah mewarnai Kota Surabaya dengan karya-karyanya. Sekian tahun kita telah dihibur. Maka saya mengimbau agar semua orang tergerak untuk membantu. Berdonasi demi kesembuhan beliau,” ujarnya. 

Cak Sapari diketahui mengidap diabetes. Istrinya, Suryaningsih, menyebut bahwa pihak keluarga sedang kekurangan biaya untuk membawa maestro ludruk tersebut ke rumah sakit. Atas kondisi tersebut, Robets tergerak untuk mengadakan donasi. “Bentuknya pementasan ludruk yang akan digelar pada 18 Juni dan 22 Juni,” ungkapnya. 

Pementasan tersebut akan ditampilkan oleh Luntas dan Baladda. Penampilan pertama, 18 Juni, digelar di Warung Mbah Cokro. Mereka membawakan lakon Jas Ontang-anting Reborn. 

Sedangkan pada 22 Juni, grupnya akan tampil di Cafe Kayoon Heritage, membawakan lakon Warung Kintel Reborn. Kedua judul tersebut merupakan judul pementasan Kartolo CS yang pernah direkam di Nirwana Record, pada dekade ‘80an. “Sebagai penghormatan kami atas karya-karya Cak Sapari bersama Kartolo CS,” ujar Robets. 

Jelang pulang, Robets dan Djadi kembali memeluk Sapari. “Sesuk mantun pentas tak mriki malih. Mbeto saweran, donasi saking dulur-dulur. Mugi sawerane kathah,” pungkas Robets. Ia mengabarkan bahwa esok setelah pentas akan datang menengok lagi, sembari membawa dana donasi. Cak Sapari tersenyum sembari mengusap kepala muridnya itu. (Guruh Dimas Nugraha) 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: