Pasuruan artikel

Hari yang Gelap (Blindspot): Film SMKN 12 Surabaya, Kisah Pelecehan Seksual yang Dialami Produser

Hari yang Gelap (Blindspot): Film SMKN 12 Surabaya, Kisah Pelecehan Seksual yang Dialami Produser

Suasana jelang Pemutaran Film "Hari yang Gelap (Blindspot) di Viaduct by Gubeng-Guruh Dimas Nugraha-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Hari yang Gelap (Blindspot). Film besutan para pelajar SMKN 12 Surabaya yang diproduksi oleh Kreasitama Sinema Kita. Film tersebut berkisah tentang pelecehan seksual yang pernah dialami oleh produser, Anggelia Bela.

Sebanyak 6 pelajar SMKN 12 jurusan Film, menjalani proses magang secara intensif di rumah produksi Kreasitama Sinema Kita. Meski pihak sekolah tak mewajibkan mereka untuk menghasilkan karya film, namun keenam siswa itu mampu memproduksi film di bawah bimbingan Kreasitama Sinema Kita.

Film mereka berjudul Hari yang Gelap. "Dalam rumah produksi kami ada kelas menulis script yang kami selenggarakan secara rutin. Keenam siswa itu mengikuti kelas penulisan tersebut. Karya terbaik yang kami pilih, berjudul Hari yang Gelap," ungkap Ryo Eka, ketua Kreasitama Sinema Kita.

Karya itu ditulis oleh Anggelia Bela. Berkisah tentang pelecehan seksual yang pernah dialami ketika dia duduk di bangku SMP kelas 9. Dalam naskahnya, Bela menulis banyak kekecewaan. Dia protes karena dalam masyarakat belum ada kesadaran tentang bahaya pelecehan seksual. Bahkan sering menganggapnya sepele. "Padahal para korban akan memiliki trauma sepanjang hidup akibat pengalaman itu," ungkapnya.

Sebagai karya terbaik kelas penulisan, Kreasitama Sinema Kita memfilmkan naskah tersebut dengan judul sama. Namun mereka menjadikan Bela sebagai produser. Sedangkan naskah script dikerjakan oleh rekannya sesama pelajar SMKN 12: Dwi Ardhana. Hal itu dilakukan supaya masing-masing siswa memiliki daya kreatif, terkait pengembangan naskah. 

"Saya eksplorasi naskah Bela dengan lebih mendalam. Ada konflik seputar keluarga, pandangan masyarakat, serta tentu alur film yang kompleks," ujar Ardhana. Proses produksi film tersebut memakan waktu selama 3 bulan. "Yang bikin lama adalah pra produksinya. Termasuk observasi tentang masalah-masalah pelecehan seksual," tambah remaja 17 tahun itu.

Film tersebut disutradarai oleh Presario Qalam. Para talent yang ada dalam film tersebut dijaring melalui open casting. Lewat Hari yang Gelap, para siswa dan Kreasitama Sinema Kita ingin menggugah masyarakat, bahwa pelecehan sosial merupakan salah satu problem yang marak. Penyelesaian kasus-kasus tersebut selama ini berjalan lambat. Bahkan menguap begitu saja. 

"Kurangnya wawasan dan kepedulian menyebabkan banyak orang yang masih memandang pelecehan seksual sebagai hal biasa," pungkas Ryo. Pemutaran perdana film Hari yang Gelap berlangsung pada 3 September 2022 di Viaduct by Gubeng, Jalan Nias, Surabaya. (Guruh Dimas Nugraha) 

Sumber: