Wushu artikel

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Rudi Dimusuhi setelah Bongkar Kebohongan (30)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Rudi Dimusuhi setelah Bongkar Kebohongan (30)

Senyum kebahagiaan Tim van Wijk (tengah) ketika berfoto bersama tim pencari Mijn Roots Rudi Sugihartono (kanan). Berkat Rudi ibu dan kakak kandung Tim ditemukan.-DOK Rudi Sugihartono-

Yayasan Mijn Roots punya searcher atau investigator andal: Rudi Sugihartono dari Semarang. Area pencariannya Jawa Tengah. Berkat ia, Tim van Wijk bisa menemukan ibu kandung plus dua saudaranya. Baginya, kasus Tim termasuk kasus paling unik yang ia tangani.

Mijn Roots memiliki tim pencari yang ditempatkan di berbagai provinsi. Tak mudah menemukan orang-orang lokal yang mau membantu dengan sepenuh hati. 

Salah seorang pendiri Mijn Roots, Ana Maria van Valen, yang membantu pencarian orang tua kandung anak-anak adopsi di Belanda beberapa kali kena tipu. ”Beberapa orang hanya mau uang kami,” kata Ana yang menetap di Eastwood CitraLand, Surabaya.

Rudi menjadi salah seorang investigator andalan yang bisa dipercaya dan amanah. Area pencariannya cukup luas dan banyak kasus: Jawa Tengah. Tingginya angka kemiskinan di provinsi itu membuat mafia adopsi banyak bergerak di sana pada 1973–1983.

Ana memberikan nomor telepon Rudi. Harian Disway mengirimkan pesan dari WhatsApp pada Rabu, 14 September 2022. Tak lama kemudian, Rudi langsung menelepon. Ia tahu saya karena sudah membaca seri tentang Mijn Roots.

Saya langsung menanyakan soal Tim van Wijk. Bagaimana kisah penuh drama itu dari sudut pandang sang investigator? Tentu kisah dari Rudi lebih lengkap karena ia tahu bahasa Jawa dan Indonesia.

Rudi menemukan ibu kandung tim dalam waktu nyaris dua tahun. Durasi pencarian begitu panjang karena dokumen kelahiran Tim dipalsukan. 


Sosok amanah yang sudah mengabdi bertahun-tahun di Yayasan Mijn Roots: Rudi Sugihartono.-DOK Rudi Sugihartono,-

”Data yang diberikan ke saya itu tidak akurat,” ujar pria asal Semarang tersebut. Rudi sempat mencari data kelahiran Tim di Rumah Sakit St. Elisabeth, Semarang. Tidak ada bayi dengan nama Rudianto atau Rudiyanto, nama lahir Tim. Juga, tidak ada dokumen yang menyebutkan bahwa Elya Rosani, ibu kandung Tim, melahirkan di sana. 

Ada informasi bahwa Elya pernah tinggal di Karangbendo, Jatingaleh, yang juga di Semarang. Rudi datang ke sana, tetapi rumah besar itu kosong. 

Ia kembali ke Yayasan Pelayanan Kristen (PELKRIS) di Semarang yang dulu banyak menampung bayi. Data di sana begitu lengkap. 

Rudi mendapat informasi bahwa Tim diadopsi di Rumah Bersalin Soegijopranoto. Ia terus melanjutkan pencarian sehingga mendapat informasi bahwa ibunda Tim tinggal di Susukan, Salatiga. 

Seorang babinsa yang ia temui ternyata mengenal nama Elya Rosani. Ia tahu tempat tinggal dia. Rudi akhirnya menemukan ibu kandung Tim. Tes DNA cocok. Sayangnya, dalam kondisi Covid-19, semuanya serba dibatasi. 

Tim tak bisa mendapatkan visa ke Indonesia karena ledakan kasus Covid-19 di awal 2020. Jangankan Tim, Rudi yang masuk ke desa itu harus menjalani karantina. Apalagi, orang luar negeri yang mau masuk ke Indonesia.

Saat itulah ibunda Tim sakit. Dia tak punya BPJS. Anak-anak adopsi dari Mijn Roots mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan. Rudi berupaya mengurus BPJS-nya, tetapi tak bisa karena ia bukan pihak keluarga Elya. 

Bibi tim yang merawat Elya tak punya biaya untuk mengurus ke kantor BPJS karena terlalu jauh dari desanya. Akhirnya diputuskan bahwa Elya menjalani rawat jalan. Sayangnya, dia meninggal tak lama setelah mendapat penanganan medis. ”Padahal, Bu Elya sangat ingin ketemu Tim,” kenang Rudi.

Dalam seri sebelumnya disebutkan bahwa kisah pencarian Tim penuh dengan drama. Sang bibi menutupi kisah sebenarnya. Terutama soal keberadaan dua kakak kandung Tim. ”Dan sebenarnya Bu Elya tahu alamat kakak Tim. Tapi, dia dalam tekanan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Jadi, memang rumit sekali kasus ini,” lanjut Rudi.

Elya dirawat adik kandungnyi. Jika mengatakan yang sebenarnya ke Tim, dia bisa diusir dari rumah yang dia tumpangi. 


Tim van Wijk menikmati musik dalam perjalanan bersama Rudi Sugihartono.-Dok Sumi Kasiyo-

Sebaliknya, dari cerita versi sang bibi, dua anak Elya dianggap tak mau merawat ibunya. Konflik keluarga membuat semuanya jadi ruwet. Ada hal tabu yang mereka tutup-tutupi. Bahkan, Tim yang menjadi anggota keluarga mereka juga tidak boleh tahu.

Semua kebohongan yang diceritakan sang bibi akhirnya dibongkar Rudi. Naluri investigasinya begitu kuat. Ia menanyai siapa saja yang ada di Salatiga. Terutama di Susukan.

Akhirnya ia mendapat alamat hingga nomor telepon kakak kandung Tim. Mereka satu ibu, tetapi beda bapak semua. Makanya, saat DNA dicocokkan, hasilnya hanya sebagian yang cocok. Satu ibu, beda bapak.

Rupanya keberhasilan Rudi mengungkap fakta itu menjadi bumerang baginya. Keluarga bibi Tim marah. Ia dianggap terlalu ikut campur urusan keluarga orang lain. Itulah konsekuensi menjadi investigator sepertinya. ”Setelah menemukan saudara Tim, saya malah dimusuhi?” ucap Rudi dalam sambungan telepon yang sudah berjalan lebih dari  20 menit itu. (Salman Muhiddin)

Anak Bibi Menyerang Rudi di Kuburan. BACA BESOK!



Sumber: