Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Kak Suparti Selalu Menggendongku (45)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Kak Suparti Selalu Menggendongku (45)

Kasih sanyang Sumi Kasiyo (kiri) dan sang kakak Suparti tetap abadi meski sang kakak telah tiada 2016 silam. Senyuman merekah saat mereka dipertemukan kembali di Trenggalek 2014.-Sumi Kasiyo for Harian Disway-

Ketika masih balita, Sumi Kasiyo ingat bahwa dia selalu digendong seorang perempuan. Dia sempat mengira itu adalah ibunyi: Damikem. Ternyata bukan.

--

Kepala Sumi tertunduk di tempat peristirahatan terakhir sang ayah: Kasiyo. Kuburan itu terletak di tengah perkebunan terbuka di dekat hutan. Terdapat beberapa singkong yang baru di tanam di sekelilingnya. Tak banyak makam di sana. 

Beberapa anggota keluarga datang bergabung dan mengirimkan doa. Momen pulang kampung pertama ke Trenggalek dipenuhi dengan air mata. Koneksi dengan sang ayah begitu kuat meski ia telah tiada ketika Sumi masih berusia 5 tahun. 

Perasaannya campur aduk. Di lain sisi, dia begitu gembira bisa menginjakkan kaki di tanah kelahirannyi setelah 35 tahun diadopsi ke Belanda. Pohon kelapa, pisang, mangga, dan berbagai pohon berbuah eksotis yang ada di memorinyi kini ada di depan mata. Inilah hutan Ngruno, tanah kelahiran Sumi Kasiyo.


Ziarah pertama Sumi ke makam sang ayah, Kasiyo pada 2014. Ia meninggal ketika Sumi masih 5 tahun. -Sumi Kasiyo for Harian Disway-

Pantai pasir putih dengan pulau-pulau kecil di dekat pantai juga mengembalikan lagi memorinya akan Trenggalek. Tubuhnyi bisa merasakan lagi deburan ombak di pantai berpasir putih. Angin nan sejuk datang seperti penawar depresinyi.

Hampir semua keluarga besarnyi sudah pindah ke Gorontalo. Pemerintah ingin memecah kemiskinan dan kepadatan di Jawa. Hanya sedikit yang bertahan di Jawa.

Program transmigrasi gencar dilakukan di era Presiden Soeharto. Pemerintah memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.

Salah satu kakaknyi bertahan di Trenggalek: Suparti. Inilah perempuan tangguh yang begitu mencintai Sumi secara tulus. Rasa cintanyi begitu membekas meski mereka terpisah selama 35 tahun: 1979–2014.

Sumi menemui Suparti dengan tangisan kebahagiaan. Mereka begitu mirip. Usia mereka terpaut 9 tahun. Dialah perempuan yang selalu menggendong Sumi ketika masih kecil. Sumi selalu salah mengartikan bahwa dialah sang ibu.

Dia membagikan foto-foto penuh senyuman dengan Suparti. Namun, setiap kali mengingatnyi, Sumi tak bisa membendung air matanyi. ”She is like my mother (Dia seperti ibuku, Red),” kata arsitek jebolan ArtEZ University of the Arts itu.


Keluarga besar Suparti di Trenggalek. Sumi selalu rindu dengan mereka.-Sumi Kasiyo for Harian Disway-

”We have a very strong bond (Kami memiliki ikatan yang sangat kuat, Red),” ucap Sumi sambil mengusap air matanyi saat wawancara virtual September lalu. Dua tahun setelah pertemuan itu, Suparti meninggal. Tepatnya pada Oktober 2016. 

Sumi begitu kehilangan. Seperti kehilangan ibu. Selain merawatnyi ketika masih kecil, Suparti juga perempuan yang begitu jujur dan tulus. Dia tidak mau memanfaatkan Sumi yang secara ekonomi tergolong mampu.

Dia juga banyak mendapatkan kisah dari Suparti secara utuh ketika ibu kandung mereka memilih diam seribu bahasa soal kisah adopsi itu. Di hari Sumi menghilang, sang kakak merengek. ”Ibu, di mana adik-adikku?” tanya Suparti yang sudah remaja kala itu.

Sumi dan Suyatmi menghilang dan sang ibu tak pernah menceritakan hal sebenarnya. Suparti begitu sedih dan terus menanyakan hal tersebut. Dia marah ketika tahu dua adik perempuannyi dijual.

Mungkin hal itu juga membuatnyi tak mau bergabung dengan sang ibu dan keluarga besar yang pindah ke Gorontalo. Dia juga merasakan kesedihan mendalam seperti yang dirasakan Sumi selama puluhan tahun. Untunglah, takdir masih mempertemukan mereka sebelum Suparti meninggal.


Sumi ketika pulang ke Trenggalek 2014.-Sumi Kasiyo for Harian Disway-

Sumi kini memiliki ikatan batin yang kuat dengan Yoki, putra Suparti. Pria kelahiran 1989 itulah yang selalu menyambut Sumi ketika mudik ke Trenggalek. ”Always protective and sweet. A man of less words and more deeds. I have instant connection with him (Selalu protektif dan manis. Seorang pria pendiam dan suka membantu. Saya memiliki koneksi instan dengannya, Red),” ucap Perempuan yang tinggal di Eindhoven, Belanda, itu.

Yoki terasa sangat spesial bagi Sumi. Sama dengan mendiang sang mama: Suparti. Begitu kuatnya koneksi itu sampai menurun ke sang anak. (Salman Muhiddin)

 

Momen Bertemu Ibu Kandung. BACA BESOK!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: