Tanggapan Komunitas Hobby Nonton tentang Film Don't Worry Darling

Tanggapan Komunitas Hobby Nonton tentang Film Don't Worry Darling

AKTING Florence Pugh (kanan) sebagai ibu rumah tangga di Victory, dan Harry Styles sebagai suami pemabuk layak diapresiasi. -Warner Bros.-

Monolog Florence Pugh

Florence Pugh membahana setelah aktingnya di Midsommar dan Black Widow. Badannya yang mungil dan agak kurang proporsional menurut standar dunia hiburan bukan halangan. Akting dia sukses membungkam semua komentar negatif. Di Don’t Worry Darling ini, Florence Pugh sekali lagi membuktikan dia mampu tampil melebihi ekspektasi yang dibebankan ke pundaknya.

Penampilan Florence Pugh menenggelamkan semua lawan mainnya. Dan secara khusus menarik lampu sorot untuk berfokus pada dirinya saja. Bagus? Tidak juga, karena bagaimanapun tokoh protagonis tidak akan menonjol tanpa antagonis. Yang sayangnya, oleh naskah, tokoh antagonis dibunuh secara dini oleh porsi yang terlampai sedikit dan oleh fokus yang tidak imbang.

Sebagai pembanding, kita tengok film yang tidak terlampau jadul, Vivarium. Berjalan dalam rel yang sama, yaitu psychological thriller, Vivarium menempatkan sosok penjahatnya berimbang dengan sosok hero. Sehingga ketegangan dan porsi hero sangat jelas.

Don’t Worry Darling, saya kira malah seperti karya monolog Florence Pugh di panggung teater. Bukan film layar lebar, apalagi film thriller. Kalau film misteri, memang iya. Atau jika mau, ’’siksa’’ saja Pugh dengan deraan teka-teki nan rumit yang harus dilakoninya seorang diri. Seperti Cast Away-nya Tom Hanks, tapi versi thriller.

Don’t Worry Darling tidak membangkitkan ketertarikan saya pada sebuah film. Tapi ya, bolehlah untuk menambah daftar referensi. Siapa tahu, jika ditonton ulang akan lebih menarik.

Wimpie,
karyawan swasta

Film Feminis yang Gagal

FILM PANJANG kedua garapan sutradara Olivia Wilde ini lebih banyak menuai kontroversi di balik layar dibandingkan pesan utamanya. Itu membuat dua jam lebih film yang mencoba menjadi feminis ini sia-sia. Dalam kampanyenya, Wilde menyebut Don’t Worry Darling sebagai sebuah film thriller feminis. Tapi bagi saya, ini hanya sebuah narasi kosong murahan yang berusaha tampil cantik di luar. Munafik.

Sebagai film, Don’t Worry Darling berdiri dengan kekuatan casting luar biasa. Bahkan secara visual, sorotan sinematografer Matthew Libatique menambah gebrakan visual yang indah. Sayangnya plot dan ceritanya tidak banyak terlalu berbicara. Bahkan tema utamanya cenderung basi.

Stepford Wives (1975) sudah mewakili jauh lebih dulu dengan sangat bagus. Pleasantville (1998) dan The Truman Show (1998) jauh lebih orisinal dan kreatif menjelaskan konsep utopia. Dan seperti agak-agak berbau The Matrix (1999). Bahkan saya masih merasakan bahwa Promising Young Woman (2020) sangat mampu menjelaskan batasan antara feminisme dengan keadilan. Jika saya mau menyebut spoiler tanpa konteks, Don’t Worry Darling ibarat Get Out (2017) versi cewek kulit putih. You know what I mean, lah!

Don’t Worry Darling adalah sebuah contoh. Bahwa sesuatu yang dipaksa untuk bersuara lantang justru malah terdengar seperti teriakan tak jelas. Ia menunjukkan betapa Hollywood tenggelam dalam kekacauan narasi feminisme yang tak berujung. Boro-boro feminisme, ujung-ujungnya menjadi terlihat misandris. Hanya sebuah narasi untuk membenci laki-laki.

Beberapa feminis salah kaprah memahami tentang pilihan hidup perempuan. Pilihan perempuan menjadi ibu rumah tangga adalah persoalan kadaluwarsa dalam diskusi feminisme. Kemandirian dan independensi perempuan menjadi tolok ukur yang harus digarisbawahi oleh kaum perempuan. Bahwa menjadi ibu rumah tangga seakan-akan membatasi perempuan menjadi mandiri.

Saya merasa narasi yang dibangun film ini justru menanamkan konsep feminisme yang menyesatkan. Menampilkan kesan dan pandangan keliru tentang bagaimana seharusnya perempuan berpikir dan berperilaku.

Padahal tidak semua wanita melihat peran ibu rumah tangga sebagai upaya untuk membelenggu kebebasan mereka. Banyak perempuan justru menikmati dan memilih gaya hidup itu. Menjadi ibu rumah tangga juga sebuah pilihan mandiri dan bebas. Bahkan untuk memiliki anak, berkarier, hingga menikah atau tidak menikah.

Pada akhirnya, saya tak rela jika Hollywood nantinya memberikan tempat di Academy Awards atau ajang penghargaan lainnya untuk film ini. Mungkin hanya peran Florence Pugh yang masih layak mendapat award. Bagi saya, Olivia Wilde kali ini gagal. Sebagai sutradara maupun aktivis perempuan.

Awik Latu Lisan,
penikmat film

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: