Pasuruan artikel

Parade Teater Jawa Timur 2022 oleh UPT TBJT (2); Gila itu Menarik dan Merdeka

Parade Teater Jawa Timur 2022 oleh UPT TBJT (2); Gila itu Menarik dan Merdeka

Aksi Jedinx Alexander tampak seperti orang gila yang meracau tidak karuan. Dalam judul Terlambat Jeda, Titik Koma Berbicara, pertunjukan oleh penampil tamu dalam Parade Teater Jawa Timur 2022 pada hari kedua itu memang berbasis kajian terhadap orang gila.-JULIAN ROMADHON-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Tiga pementasaan mengisi Parade Teater Jawa Timur 2022 pada hari kedua. Tampil Teater Swarung Seni, Teater Nusa dan Teater Forum Aktor. Ditambah satu penampil tamu dari Ikasdrafi Yogyakarta, Jedinx Alexander. 

Make-up pucat, sedikit putih dengan lubang di kening sebelah kiri berwarna hitam beraksen merah. Seperti mengalir darah dari lubang kening hitam itu. 

Sepanjang pementasan, Jedinx Alexander selalu mengucap kalimat-kalimat filsafat. Didukung dengan visual dirinya yang tampil bergantian di latar panggung. 

Otak disergap ilusi dan delusi. Memenuhi jagad virtual dan media. Itulah suara latar yang terdengar. Kemudian terdengar musik disko digital. Aktor bernyanyi. ”Dunia kemayaan, wahai engkau adalah diriku yang akan selalu tetap oke-oke saja.”

Jedinx tampak seperti orang gila yang meracau tidak karuan. Pementasan yang digelarnya memang berbasis kajian terhadap orang gila. Bertajuk Terlambat Jeda, Titik Koma Berbicara. 

”Apa kabar diriku yang terjebak dalam kuasa aksara dengan nilai ego norma dan budaya?,” Jedinx berbicara dengan dirinya sendiri. Lantas ia memelesetkan kalimat filosofi Rene Descartes. ”Karena gila semua jadi ada. Karena gila, semua jadi ada.” Itu diucapnya berkali-kali. 

Menurut Jedinx, gila itu menarik. Orang gila itu merdeka. Ia menyebutkan bahwa kegilaan bukan aib, tapi keseimbangan. Orang gila memberi pekerjaan bagi orang lain. Seperti pekerja medis dan sebagainya. ”Mohon orang gila dihormati. Demi keseimbangan kita semua,” ujarnya.

Bahkan menurutnya lagi, kegilaan dan kejeniusan sebenarnya berbeda tipis. ”Orang gila itu mulia. Tak pernah mengkhianati hati nurani. Pun tak ada orang gila yang korupsi,” ungkapnya. Sementara orang waras bersalah, ia bisa dimarahi. Namun jika orang gila berbuat salah, ia pasti dimaklumi. 

Selanjutnya pertunjukan Terlambat Jeda, Titik Koma Berbicara menjadi pembuka parade yang digelar oleh UPT Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Satu dari enam penampil yang terpilih oleh tiga dewan juri. Yakni Deny Tri Aryanti (STKW), Arif Hidayat (UNESA), dan Hendra Cipta, tokoh teater dari Sumenep. 

Penampil kedua, Teater Swarung, mementaskan naskah berjudul Pita Kaleng. Tentang dua pemuda yang membuka pertunjukan dengan satu orang menarik gerobak, satu orang lainnya berada di atas dengan gaya berpidato. 

Seolah-olah sebagai tokoh pejabat yang merakyat. ”Jangan hedon. Jangan bergaya hedonisme. Yang hedon cukup saya,” ujar aktor yang berperan sebagai pejabat. 
Seorang aktor Teater Swarung yang mementaskan naskah berjudul Pita Kaleng ini berlagak seperti orator ulung.-JULIAN ROMADHON-

Setelah beberapa adegan, properti panggung tiba-tiba bergerak. Seperti gempa. Tiga aktor yang dipimpin satu aktor berkebaya merah, masuk panggung. Berlagak seperti orator ulung. Namun dia berorasi demi kepentingan pribadinya sendiri.

Ketiga aktor keluar panggung. Dua pemuda datang hingga membuat tiga aktor tersebut pergi ke luar. Diibaratkan sebagai kejadian gaib. Salah seorang bertanya. ”Bagaimana kurikulum merdeka dapat memahami alam metafisik seperti ini?” Dialog itu disambut tawa penonton.

Pada akhir pementasan Pita Kaleng, salah seorang aktor mengalami sakit jiwa. Ia bertingkah dan berbicara tak teratur. 

Sumber: