Soe Tjen Marching dan Fakta Gerakan 1 Oktober 1965: Tiga Versi tentang Bing (7)

Soe Tjen Marching dan Fakta Gerakan 1 Oktober 1965: Tiga Versi tentang Bing (7)

Soe Tjen Marching dalam sebuah pertemuan bersama para aktivis. Membahas buku kumpulan puisi berjudul Tiga Kitab. -Elvina Tabitha-

HARIAN DISWAY - Mendapat olokan sebagai anak tapol, komunis, malah membuat Soe Tjen Marching diliputi rasa ingin tahu. Dia tak mungkin bertanya pada papanya karena sangat temperamental. Cerita dengan berbagai versi justru didapatkan dari mama dan kakak-kakaknya.

Soe Tjen masih ingat. Saat kecil, beberapa kali dia nguping atau curi-curi dengar. Ketiga kakaknya saling berbincang tentang masa lalu. Beberapa tahun sebelum dia dilahirkan. Bahwa papanya pernah dipenjara. 

Mamanya pun kadang turut "bernostalgia" dengan tiga anaknya. Nostalgia biasanya membicarakan hal yang indah pada masa lalu. Namun, nostalgia dalam lingkungan keluarganya banyak mengungkap masa-masa susah. Masa yang mencekam karena ketidakhadiran papa mereka, sekaligus stigma negatif dari publik.
Soe Tjen Marching mendapat tiga versi cerita tentang ayahnya dari ketiga kakak dan mamanya Yuliani. -Elvina Tabitha-

Seorang eks tapol, apalagi dianggap memiliki kedekatan dengan organisasi yang dilarang oleh Orde Baru, akan mendapat cap buruk. Begitu pula dengan anak keturunannya. "Pertama kali saya mendengar perbincangan tentang papa saya yang pernah dipenjara, adalah ketika saya duduk di bangku SD kelas 2," tuturnya.

Di ruang tengah rumahnya, keluarga mereka berkumpul. Kecuali papanya, Oei Lian Bing yang ketika itu tengah tertidur. Soe Tjen kecil mendengar dari celah kamarnya. Ketiga kakak dan mamanya bercerita tentang masa-masa itu.
Soe Tjen Marching (duduk) bersama mama dan ketiga kakaknya. Saat itu menempati rumah di kawasan Darmo Kali, Surabaya, sebelum pindah ke Putro Agung. -Soe Tjen Marching-

Terlebih, ketika bersekolah di SD Kristen IMKA, Soe Tjen bertemu dengan kawan satu kelas yang duduk sebangku. Dia juga bercerita bahwa orang tuanya pernah dipenjara. "Ya namanya anak kecil. Cuma bisa cerita-cerita kalau tahun 1966, papa saya dan papanya dia pernah dipenjara. Ditanya apa sebabnya? Enggak tahu," kenangnya.

Ketika beranjak dewasa, rasa ingin tahu Soe Tjen tentu semakin tinggi. Dia mulai berani bertanya pada mamanya, Yuliani, dan ketiga kakaknya tentang alasan papanya dipenjara. Hanya mereka informan yang dirasa mampu memberi keterangan. Sebab, Soe Tjen sangat takut kepada Bing.

Papanya itu temperamental. Gemar marah. Mungkin karena peristiwa 1965 serta apa yang dialaminya sebagai tahanan politik, membuatnya trauma dan kejadian itu mengubah sifatnya. Dari seorang yang biasa-biasa saja menjadi meledak-ledak. 

Tapi justru Soe Tjen mendapat keterangan yang berbeda-beda dari mama dan ketiga kakaknya. Salah satu dari ketiga kakak Soe Tjen, berbicara dengan penuh kehati-hatian. "Begini. Jadi, mmm.. Papa dulu punya bisnis. Terus punya teman kerja. Nah, papa ditipu. Lalu dimasukkan ke penjara. Itu kata kakak saya," ujar perempuan kelahiran Surabaya, 1971 itu.

Itulah versi pertama yang diterimanya. Bahwa papanya dipenjara karena sikut-sikutan bisnis alias intrik. Kakak selanjutnya menyebut, bahwa papa mereka dipenjara karena dulu pernah bekerja sebagai wartawan.

Katanya tulisan-tulisan Bing bernada keras dan penuh kritik. Hingga, pemerintah tak berkenan. "Jadi, katanya kakak yang satu lagi, papa saya dipenjara karena bekerja sebagai wartawan yang tulisannya penuh kecaman. Akhirnya papa masuk bui," ujarnya.

Pun ketika Soe Tjen mencoba bertanya pada mamanya. Dia masih ingat, ekspresi Yuliani ketika itu berubah tegang. Tapi sejenak kemudian tersenyum. Seperti mencoba merangkai kata-kata dalam pikirannya, untuk disampaikan dengan cara yang tepat dan aman.

Yuliani mengusap rambut Soe Tjen. Lantas berkata, "Papamu dulu ikut organisasi. Lalu di kemudian hari, organisasinya itu difitnah. Jadi, karena fitnah itu, papamu pernah masuk penjara". 

Dengan jawaban itu, juga dari kakak-kakaknya, maka Soe Tjen menerima tiga versi cerita yang berbeda. Tentu mereka terpaksa menggunakan kata-kata yang tak sepenuhnya jujur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: