Ketika Selingkuhan Mendesak Minta Dinikahi

Ketika Selingkuhan Mendesak Minta Dinikahi

Mayat wanita yang ditemukan di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat disebut tengah berbadan dua.--

Griffin: ”Model hubungan begini sudah dikenal sejak orator ulung Yunani, Demosthenes, dengan selingkuhannya, Neaira si budak belian yang cantik, pada abad ke-4 sebelum Masehi.”

Hubungan Demosthenes dengan Neaira melahirkan seorang anak lelaki. Neaira berjuang agar anaknyi itu diakui sebagai warga negara Yunani. Tapi, tak pernah berhasil. Demosthenes tidak membantu perjuangan Neaira tersebut karena kebutuhannya pada Neaira hanya seks. 

Sejak itu, bahkan hingga kini (sudah 2.400 tahunan), perselingkuhan model begitu dideskripsikan sebagai kesimpulan buku Griffin tersebut. Pria ingin seks, wanita ingin dinikahi untuk melanjutkan keturunan. Perbedaan persepsi itu menimbulkan aneka problem, antara lain, paling ekstrem, pembunuhan.

Demosthenes menulis kisah itu di pidatonya dalam sudut pandang pria: ”Kami memiliki (wanita selingkuhan itu). Bukan: ’Ada Wanita’, tapi Itu Kami Punya.”

Griffin, penulis masalah kewanitaan dari Negara Bagian Tennessee, Amerika Serikat, mendeskripsikan begini: Wanita simpanan harus dinikmati (oleh pria), selir harus melayani (raja), istri harus melahirkan keturunan yang sah. 

Itulah pembagian peran wanita yang disimpulkan sosiolog hingga kini. Griffin menulis, wanita simpanan atau selingkuhan punya posisi lebih baik daripada selir. Sebab, selingkuhan lebih dimanjakan oleh pria daripada posisi selir. 

Tapi, posisi paling tinggi adalah istri, yang bagi pria ditempatkan sebagai peran pelanjut keturunan.

Griffin: ”Jadi, pertanyaannya, apakah semua wanita secara alami termasuk dalam kategori ini? Atau apakah mereka ditempatkan di sana hanya oleh pria?”

Itulah sejarah patriaki. Meskipun, Griffin tidak menyimpukan begitu. Dia menyatakan, selalu sulit ketika mempertimbangkan sikap dalam masyarakat patriarkal untuk mencari tahu, mana yang lahir lebih dulu, apakah sikap pria tentang posisi wanita tersebut di atas atau patriarki sudah ada sebelum itu?

Griffin: ”Seseorang hanya bisa melihat kehidupan dan perannya dari dalam sistem yang berlaku. Sistem itu adalah sistem di mana laki-laki memegang kendali dan telah ada selama berabad-abad, sejak ribuan tahun, dan telah diperdebatkan bahwa salah satu cara mereka mempertahankan kendali adalah dengan ’memecah’ perempuan sehingga menjadi kurang utuh. Dan karena itu tidak pernah sama dengan laki-laki.”

Penggambaran Griffin mengambil contoh ribuan tahun sialm. Terlalu jauh. Apakah zaman tidak berubah? Tapi, di abad ke-20 ada novel karya diktator Italia, Benito Mussolini, berjudul The Cardinal’s Mistress, menggambarkan hal yang sama dengan pendapat Griffin. Bahkan, Griffin mengutip sebagian dari The Cardinal’s Mistress.

Novel itu ditulis Mussolini ketika masih usia 20-an, jauh sebelum jadi diktator.

Berkisah tentang seorang tokoh sejarah, Emanuel Madruzzo, Kardinal Trent, pada masa pemerintahan kepausan Alexander VII (1655–1667). Emanuel Madruzzo punya gundik yang cantik bernama Claudia Particella.

Mussolini muda adalah penulis di koran Popolo. Saat itulah ia menulis banyak novel dan sejarah. Walaupun banyak kritikus sastra Eropa menilai, tulisan Mussolini jelek untuk setiap novelnya. Sebab, tokoh-tokoh dalam cerita tidak digambarkan dalam karakter yang konsisten.

Perselingkuhan Kardinal Emanuel Madruzzo dengan Claudia Particella digambarkan berakhir dengan tidak bahagia bagi Claudia. Sebab, sang kardinal cuma memanfaatkan Claudia untuk memenuhi hasrat seks.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: