Gubernur Jatim Khofifah Minta MPLS Anti Kekerasan

Gubernur Jatim Khofifah Minta MPLS Anti Kekerasan

GUBERNUR KHOFIFAH Indar Parawansa berfoto bersama para siswa saat pembukaan MPLS di SMKN 5 Surabaya.-Boy Slamet-Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Jam di telepon genggam Cinta Ailen Moeharam menunjukkan pukul 05.56. Dia sudah sampai di SMA Negeri 15 Surabaya. Masih sepi. Baru beberapa orang yang datang. Dia diantar oleh sang ayah: Faishol Taselan. Tak selang berapa lama, saudara kembarnya pun tiba. Dia adalah Cantik Aisyah Moeharam. Dia menggunakan ojek online.

 

Faishol tidak bisa membawa kedua putri kembarnya secara bersamaan. Pun tidak bisa mengantar bolak-balik. Rumah mereka sangat jauh. Di Jalan Prima Kebraon. Jaraknya 8,7 kilometer ke sekolah itu. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit. 

 

Karena itu, mereka harus lebih pagi untuk berangkat. Itu merupakan hari pertama kedua anak kembar itu menggunakan seragam putih abu-abu. “Senang banget. Apalagi, ini sekolah yang saya inginkan dari dulu,” kata Cinta, Senin, 17 Juli 2023.

 

Cinta menceritakan, dia dan sang saudara kembar masuk di sekolah tersebut melalui jalur prestasi. Anak ketiga dari lima bersaudara itu pun tidak menyangka bisa diterima di salah satu sekolah favorit di Surabaya itu. 

 

“SMA Negeri 15 ini pilihan pertama saya. Pilihan kedua SMA Negeri 22. Saya pikir, keterima di sekolah pilihan kedua. Alhamdulillah, saya keterima di pilihan pertama,” ucap Cinta sambil tersenyum.

 


SALAM HANGAT Khofifah Indar Parawansa untuk para siswa yang menghadiri MPLS, Senin, 17 Juli 2023.-Boy Slamet-Harian Disway-

 

Hari itu adalah masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) serentak se-Jatim. Seremoninya terpusat di SMK Negeri 5 Surabaya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun hadir di sekolah tersebut. Sisanya, mengikuti prosesi pembukaan melalui zoom meeting

 

Total ada 3.395 sekolah yang mengikuti MPLS serentak. Dengan rincian 710 SMA/SMK negeri dan 2.498 SMA/SMK swasta. Kemudian diikuti juga oleh 187 SLB negeri dan swasta. 

 

“Selain yang ikut MPLS hari ini, ada 1.009 sekolah yang pelaksanaannya tidak serentak. Ada yang mendahului ada juga yang belum,” kata Khofifah usai membuka MPLS, kemarin. 

 

BACA JUGA : Temuan Pungli di SMA-K Negeri, Gerakan Pemuda Surabaya Ingatkan Sekolah Program Tis-Tas Jatim

BACA JUGA : Hardiknas 2023, Khofifah Ajak Wujudkan Merdeka Belajar

BACA JUGA : Khofifah di Hardiknas 2023: Tingkat Pengangguran SMK Jatim Tinggal 6,7 Persen

 

Dalam MPLS itu dilakukan ikrar pelajar anti kekerasan dan anti perundungan. Hal itu, menurut Gubernur, sangat penting untuk memastikan bahwa MPLS dilakukan dengan aman, nyaman, dan menyenangkan.

 

“Ikrar yang diucapkan oleh peserta MPLS tadi juga mengikat para siswa senior, mentor maupun guru. Artinya tidak ada kekerasan yang toleransi, baik yang dilakukan oleh senior, mentor maupun guru,” tegas Khofifah. 

 

Mantan menteri sosial itu juga meminta para guru untuk mendidik siswa dengan kesantunan. Sebab, para siswa yang mengikuti MPLS kali ini kelak akan menjadi pemimpin negeri pada saat Indonesia Emas 2045. 

 

Melalui sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan, dia berharap para peserta didik bisa mendapatkan ilmu yang manfaat dan pembentukan karakter yang baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa, dan negara. Sehingga mereka akan mampu mengisi peran-peran penting pada saat Indonesia Emas 2045.

 

“Saya juga berpesan untuk anak-anak agar jangan pernah mendekati narkoba. Untuk bisa meraih kesuksesan, anak-anak harus sehat fisik dan sehat rohani serta  memiliki ilmu pengetahuan luas,” tegasnya. 

 


JAM ISTIRAHAT di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya.-Sahirol Layeli-Harian Disway-

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Aries Agung Paewai mengungkapkan, beberapa sekolah swasta saat ini masih melakukan penerimaan siswa-siswi. Ia meminta agar sekolah swasta bisa menggratiskan atau mengurangi uang sekolah. Dengan menggunakan bantuan pemerintah.

 

Bantuan yang dimaksud adalah Program Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) Jawa Timur. Itu diberikan sesuai dengan jumlah murid di sekolah tersebut. “Nominalnya berbeda-beda setiap sekolah,” ungkapnya. (Michael Fredy Yacob)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: