Kisah Brahmana Keling, Leluhur Suku Tengger

Kisah Brahmana Keling, Leluhur Suku Tengger

Umat Hindu Tengger saat beribadah Matur Piuning, dalam momen Eksotika Bromo 2023.-Ahmad Rijaluddin-

PASURUAN, HARIAN DISWAY - Suku Tengger atau Wong Bromo, merupakan masyarakat yang mendiami empat wilayah di dataran tinggi Gunung Bromo. Yakni Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang.

Catatan-catatan sejarah, termasuk kolonial, pernah memuat suku tersebut dengan keragaman budaya dan karakteristik masyarakatnya. Salah satu catatan tua yang memuat sejarah Suku Tengger adalah lontar Purwadigama.

BACA JUGA: Memahami Bahasa Jawa Tengger, Mirip Tegal Dialek Jawa

BACA JUGA: Rayakan Tahun Baru, Warga Tengger Berlomba Bunyikan Musik Tradisi Menuju Gunung Bromo

Lontar tersebut terletak di Griya Gururay, Badung, Bali. Tokoh pemuda Tengger, Afizki Arif Ridwan, pernah melakukan penelitian terhadap suku tersebut dan menemukan beberapa keterangan yang mengungkap asal-usul sukunya.

Salah satunya adalah tokoh Brahmana Keling, leluhur Suku Tengger yang begitu dihormati.

"Penelitian itu saya lakukan 5 bulan lalu. Lontar tersebut berkaitan dengan sosok Brahmana Keling yang juga pembabat alas di Bali. Brahmana Keling merupakan salah satu penulis lontar Purwadigama," ujarnya.

Hingga saat ini tak ada yang tahu nama asli Brahmana Keling. Sebutan "Keling" berasal dari tanah kelahiran brahmana tersebut. Yakni dari Keling, Jawa Timur.

Ia merupakan putra dari Dang Hyang Kayumanis dan merupakan cicit dari Mpu Baradah yang termahsyur.

Dalam sejarahnya, Brahmana Keling pernah mendirikan paseraman atau tempat pertapaan di kawasan Gunung Bromo.

Cukup lama ia berdiam di situ dan membuka pemukiman, yang diyakini sebagai cikal bakal pemukiman masyarakat Tengger.

"Brahmana Keling itu sosoknya apa adanya. Seperti rakyat kecil pada umumnya. Beliau tidak menunjukkan diri dan sebagai agamawan. Pakaiannya biasa dan merakyat," ungkap pria yang aktif dalam DPK Perhimpunan Pemuda Hindu Pasuruan itu.

Dalam lontar Purwadigama, tertulis bahwa Brahmana Keling merupakan sosok yang berpengaruh pula di Bali.

Pengaruh kedatangan dan kisah yang mengiringinya diperingati oleh masyarakat Bali lewat kesenian tari topeng Dalem Sidakarya.

BACA JUGA:Sejarah Tari Topeng Sidakarya oleh I Nyoman Arjawa

Tertulis pula bahwa jika Nusantara diibaratkan sebagai tubuh, maka Tengger dan Bromo adalah kepalanya.


I Nyoman Arjawa dan topeng Sidakarya yang dipegangnya. Topeng itu memiliki cerita kisah legenda Brahmana Keling.-Julian Romadhon-

Jika Suku Tengger dirusak, atau terpengaruh dengan budaya-budaya luar yang merugikan, maka seluruh Nusantara akan hancur.

"Seperti jika membunuh ular, maka yang diincar harus kepalanya dulu. Begitulah cerita tentang Tengger dalam lontar Purwadigama," ujar pria 25 tahun itu.

Di sisi lain, adanya kisah itu sebagai benteng kepercayaan masyarakat Tengger untuk tetap melestarikan tradisi asli mereka.

Di Bali, Brahmana Keling diberi gelar Dalem Sidakarya. Pun, masyarakat Tengger menghormatinya sebagai leluhur agung yang ajarannya tetap dilestarikan hingga kini. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: