Jazz Moderasi

Jazz Moderasi

JAZZ Kotabaru 2023 di Yogyakarta-Arif Afandi untuk Harian Disway-

Ada problem keberagamaan yang berpotensi mengganggu hubungan baik antarumat beragama. Dengan demikian, berbagai langkah kecil atau besar perlu dikakukan untuk mengerem laju kecenderungan yang bisa mengganggu kehidupan bersama yang telah terjaga.

BACA JUGA:Indah Kurnia Ulang Tahun, Dapat Kejutan pada Caravan Jazz Fiesta

Masjid Syuhada memang dikenal sebagai pusat kegiatan muslim urban sejak dulu. Lokasinya yang berada di tengah kota dan kawasan legendaris menjadi perhatian para tokoh muslim cendekia. Prof Dr A. Syafii Maarif dan Prof Dr Mahfud MD pernah menjadi pembina di masjid itu.

Masjid Syuhada juga dikenal sebagai simpul mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul. Bahkan, di antaranya menjadi aktivis di masjid tersebut. Mereka berasal dari berbagai daerah. Karena itu, jamaahnya sangat heterogen. Masjid tersebut tidak melulu diramaikan warga sekitar, tapi juga jamaah dari berbagai kalangan.

Masjid Syuhada adalah prototipe masjid urban. Hanya, popularitasnya kalah oleh masjid populis seperti Masjid Jogokariyan. Yang terkenal dengan tata kelola infak tanpa sisa dan gerakan salat subuhnya. Masjid Syuhada jenis lain dari masjid Jogokariyan. Kajiannya sejak dulu menarik untuk kaum urban dan cendekiawan.

BACA JUGA:Menyusuri Kalimas Sambil Dengarkan Alunan Jazz di Atas Perahu

Karena itu, tak aneh jika kegiatan korps dakwah dan remaja masjidnya bernuansa moderasi dan kreatif. Menjadikan masjid sebagai inspirasi bagi kehidupan sehari-hari. Kehidupan dari sebuah masyarakat yang heterogen. Bukan homogen. Agama menjadi inspirasi membangun kebersamaan. Bahkan, dengan mereka yang berbeda keyakinan.

Lalu, kenapa berganti nama Jazz Kotabaru? ”Ini sekadar memudahkan saja. Juga, karena halaman masjid yang terbatas, tidak pernah kita gelar di lingkungan masjid. Sejak kali pertama kita selenggarakan di lokasi yang ada space cukup di sekitar masjid dan gereja,” ungkap Budhi. 

Bukan hanya remaja masjid dan pemuda Katolik yang aktif dalam kegiatan itu. Romo-romo muda dari gereja besar di Kotabaru tersebut juga mendampingi setiap kegiatan bersama itu digelar. Bahkan, sampai ada yang ikut bersama-sama menarik kabel untuk pertunjukan. Sebuah kebersamaan yang senyatanya.

BACA JUGA:Ngejazz Bareng Mahasiswa UWM, Indah Kurnia Nyanyikan Close to You

Pilihan musik jazz sebagai kegiatan bersama tentu bukan tanpa sengaja. Inilah jenis musik yang mengandalkan harmoni. Musik yang keindahannya terbangun dari rasa para pemainnya. Bersama membangun komposisi dengan mengandalkan empati antar musisinya. Menyelaraskan rasa dalam menghasilkan harmoni.

Kehidupan beragama sebenarnya adalah kehidupan tentang rasa. Respons terhadap sebuah ajaran yang diyakininya benar. Masing-masing memiliki tingkat keyakinan yang berbeda. Namun, antarjamaah disatukan melalui keyakinan akan adanya kehidupan yang kekal dan fana.

Moderasi beragama ibarat musik jazz. Bahwa setiap orang mempunyai tingkat keimanan yang berbeda. Juga, keyakinan yang beragam. Namun, perbedaan itu harus diharmonisasi dalam kehidupan nyata. Diaktualisasi dengan cara saling merespons dengan rasa untuk menghasilkan kehidupan yang indah.

BACA JUGA:Orange Band Ramaikan Event Jazz To Campus di Universitas Widya Mandala

Moderasi beragama selayaknya bukan hanya wacana. Ia akan menjadi sikap bersama jika diwujudkan dalam kegiatan nyata. Hanya dengan kegiatan bersama, penghargaan di antara mereka akan makin terasa. Saling menyapa mereka yang bersujud di masjid dan mereka yang menyapa tuhannya di altar gereja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: