6,3 Juta Balita Menderita Stunting

6,3 Juta Balita Menderita Stunting

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin bersama Ibu Wury Ma'ruf Amin memantau tumbuh kembang anak di Posyandu Cempaka, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.--

HARIAN DISWAY - Jumlah balita di Indonesia yang menderita tengkes (stunting) mencapai 6,3 juta anak. UNICEF menyebut ini disebabkan sejumlah hal. Yakni anak kekurangan gizi dalam dua tahun usianya, ibu kekurangan nutrisi saat kehamilan, dan sanitasi yang buruk.

Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6 persen. Ditarget bisa turun menjadi 14 persen pada 2024. Tentu perlu upaya bersama terutama dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga.

Di Surabaya, angka tengkes ini juga terus berkurang. Kini, sebanyak 27 kelurahan dan tiga puskesmas diklaim sudah zero tengkes. Sisanya, 320 kasus tersebar di antara 127 kelurahan.

"InsyaAllah angka ini akan kita selesaikan akhir bulan Desember ini atau Januari 2024 nanti,” kata Eri usai acara evaluasi tengkes, Jumat, 22 Desember 2023. 

Para balita yang menderita tengkes itu punya penyakit bawaan. Sehingga penanganannya lebih sulit karena harus disembuhkan dulu penyakitnya atau minimal dieliminir dampak-dampaknya. Setelah itu, baru bisa diatasi berat badan dan tinggi badannya.

BACA JUGA:PLN UIP JBTB Optimalkan Kader Surabaya Hebat Dalam Penurunan Stunting

BACA JUGA:Mahasiswa Fikom UKWMS Kemas Edukasi Stunting dengan Unik Lewat Gelaran Mom and Baby Fair

Bagi Eri, capaian ini adalah keberhasilan dari para lurah, kepala puskesmas dan semua stakeholder yang ada di wilayah tersebut. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi tengkes di Surabaya tercatat di level 4,8 persen. Turun drastis dari 2021 yang tembus 28,9 persen. Pada akhir 2022 turun lagi menjadi 4,8 persen. 

“Tahun 2023 ini sudah dicek tapi belum ada pengumumannya. Semoga semakin menurun lagi karena memang salah satu tujuan pemerintah,” tandasnya. Eri pun bakal memberi penghargaan bagi setiap kelurahan yang berhasil menurunkan angka tengkes hingga zero.

Penguatan pendampingan kepada ibu-ibu yang menderita tengkes. Sebab, pendampingan PKK itu bukan hanya sekadar gizinya, tapi juga bagaimana pola asuh yang diterapkan ibu-ibu, terutama ibu-ibu muda.

Penurunan tengkes ini penting. Yakni untuk menyambut Indonesia Emas 2045. Sebab, balita yang sehat merupakan potensi SDM yang kuat.

BACA JUGA:Gibran Segera Terapkan Cara Menekan Angka Stunting di Daerah Kumuh


Kelas Parenting Puspaga-Diskominfo Surabaya-

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Sukaryo Teguh Santoso mengatalan, pencegahan tengkes menjadi salah satu upaya peningkatan rata-rata kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ) penduduk Indonesia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: