Keluarga sebagai Pilar Etika Bangsa

Keluarga sebagai Pilar Etika Bangsa

Keluarga sebagai Pilar Etika Bangsa-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Sebagai karakter bangsa, Pancasila terus ditanamkan kepada semua warga negara melalui pendidikan. Oleh karakter, materi Pancasila selalu ada dalam kurikulum pendidikan nasional. 

Namun, etika berbangsa dan bernegara sampai saat ini belum menunjukkan keberadaban, bahkan justru makin memprihatinkan. 

Pada era reformasi, Presiden Joko Widodo juga pernah mencanangkan program revolusi mental untuk memperbaiki mental bangsa yang semakin rapuh. 

Sayang, program tersebut juga layu sebelum berkembang. Kemudian, Mendikbudristek Nadiem Makarim mencanangkan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5).

BACA JUGA: Urgensi Etika dalam Kampanye Pilpres

Pembangunan etika menjadi persoalan yang sangat rumit dan sulit karena harus melibatkan kesadaran dan tanggung jawab setiap orang, keluarga, masyarakat, dan negara. 

Bahkan, etika harus ditanamkan kepada  anak sejak dini di lingkungan keluarga, melalui keteladanan dan pembiasaan.  Pada usia dini itulah saat yang paling baik untuk menanamkan etika. Itu sebagaimana yang dikatakan Lawrence Kohlberg.   

Keluarga merupakan kawah candradimukanya pembentukan etika. Di keluarga tersebut anak kali pertama memperoleh pendidikan, terutama masalah baik dan buruk. 

Anak dikenalkan dengan nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi dan diamalkan. Nilai merupakan sesuatu yang dicita-citakan. Sebagai contoh, hampir semua orang tua mendambakan  anak yang saleh dan salihah. 

Nilai-nilai tersebut kemudian dijabarkan dalam bentuk aturan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Bahkan, aturan tersebut disertai dengan hukuman (sanksi) ketika ada yang melanggar. 

Oleh karena itu, hampir setiap anak pernah memperoleh hukuman dari orang tua sebagai wujud hukuman atas pelanggaran norma yang dilakukan.

Pendidikan di keluarga menjadi landasan etika bagi setiap orang. Itu juga bisa dirasakan semua orang, bahwa nilai-nilai yang dijunjung saat ini berasal dari keluarga, bukan dari sekolah. 

Pembiasaan dan keteladanan orang tua serta aturan yang ada di keluarga yang tertanam kuat dalam diri kita.

Etika sesorang sangat bergantung dari budaya yang dibangun di lingkungan keluarga. Jika dalam keluarga tersebut tidak terjadi proses pendidikan etika, akan sulit berharap menghasilkan anak-anak yang beretika. 

Bahkan, harapan memiliki anak saleh dan salihah sulit terwujud jika tidak disertai dengan pembiasaan dan keteladanan dari orang tua maupun lingkungan terdekatnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: