Retret Kepala Daerah dan Paradoks Efisiensi Anggaran

ILUSTRASI retret kepala daerah dan paradoks efisiensi anggaran..-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Tanpa adanya retret, pemerintah daerah masih bisa didorong untuk melakukan konsolidasi dengan pemerintah pusat melalui beberapa aturan yang sebenarnya sudah ada seperti melalui undang-undang harmonisasi keuangan pusat dan daerah.
EFISIENSI YANG BIAS MAKNA
Jika mempertimbangkan komposisi jumlah menteri dan wakilnya yang justru lebih gemoy ketimbang kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo, program penghematan anggaran yang dicanangkan Prabowo tidak mencerminkan efisiensi sesungguhnya.
Demikian pula pelaksanaan retret para kepala daerah terpilih di Magelang yang menghabiskan anggaran tidak kecil dengan argumen untuk memperkuat koordinasi juga tidak ditemukan urgensi pelaksanaannya.
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa retret para kepala daerah dan wakilnya adalah program paradoks yang berbanding terbalik dengan niat efisiensi.
Berbeda dengan pelaksanaan retret kabinet menteri dan wakilnya yang menggunakan dana pribadi Prabowo, kali ini agenda retret yang menelan biaya dari APBN yang justru bersifat pemborosan.
Padahal, dengan kemajuan teknologi komunikasi yang ada saat ini, tidak ada alasan bagi pemerintah tidak bisa memanfaatkan konferensi daring untuk menyampaikan arah kebijakan secara langsung.
Jadi, tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan dan akomodasi yang menyedot anggaran dengan memanfaatkan aplikasi Zoom yang lebih murah.
Demikian pula, seremoni pelantikan bisa dilakukan di daerah masing-masing secara daring atau setidaknya secara seremonial sederhana di kantor gubernur atau kementerian terkait.
Dalam era digital seperti saat ini, pertemuan fisik dalam skala besar tidak lagi menjadi suatu keharusan.
Terlebih, dengan kemajuan teknologi visualisasi nirkabel yang canggih dewasa ini sangat memungkinkan komunikasi dan koordinasi yang efektif sehingga makna efisiensi akan menemukan momentumnya. (*)
*) Sukarijanto adalah pemerhati kebijakan publik dan peneliti di Institute of Global Research for Economics, Entrepreneurship & Leadership.--
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: