Popok pun Berubah jadi Pot dan Pupuk Organik Demi Masa Depan Bumi

Popok pun Berubah jadi Pot dan Pupuk Organik Demi Masa Depan Bumi

Bayu Panji Saputra menunjukkan proses produksi pot dari popok bekas.-Alfi Kirom-Harian Disway-

Terkadang, teman dan guru-guru Bayu pun ikut membantu semua proses itu. Kalau semua proses tadi tidak selesai di akhir pekan, ia akan melanjutkan saat hari sekolah. Tentu, setelah jam pulang sekolah. Sekitar pukul 12.00. Ia kerjakan sampai pukul 17.00.

“Saya bersyukur sekolah masih mengizinkan saya untuk memproduksi di sini. Saya juga jemurnya di tiang-tiang ini. Jeruji besi depan kelas. Kalau lagi panas terik, ya bisa 30 menit sampai 1 jam dijemur. Sambil menunggu, saya main bola sama teman-teman,” ungkapnya.

BACA JUGA: Livin' Planet Libatkan Nasabah Bank Mandiri dalam Pelestarian Lingkungan

Semua bagian popok digunakan. Popok bagian luar bisa dibuat pot bunga berukuran besar dan kecil. Pot kecil biasanya digunakan untuk menaruh lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah. Itu juga produk teman sekolah Bayu. Mereka sama-sama dibimbing komunitas Tunas Hijau.

Tunas Hijau adalah organisasi lingkungan hidup yang dinamis. Terus bergerak, berinovasi dan berkembang melalui program-program nyata untuk menciptakan bumi yang lebih baik. Setiap hari, sedikitnya dua program lingkungan hidup dilaksanakan di komunitas atau sekolah.

Komunitas itu dirintis sejak 2002 oleh paguyuban Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup. Dengan segala sumber daya pendukung yang serba terbatas, Tunas Hijau terus berupaya seoptimal mungkin untuk menjaga eksistensinya, khususnya pada tahun pertama pasca penanaman.

Sejak tahun itu, Tunas Hijau menggelar agenda tahunan, yaitu Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup untuk anak-anak. Pada program itu, anak-anak diminta untuk memiliki proyek lingkungan hidup yang tidak sehari selesai.

BACA JUGA: Mandiri Sahabatku 2024 Sukses Lahirkan Ribuan Pengusaha Baru dari Kalangan PMI di 6 Negara

Dari situlah semua program pengolahan sampah popok itu berasal. Bayu mengikuti program tersebut sejak awal 2023. Saat ia masih duduk di kelas 5 SD. Hingga saat ini Bayu sudah mengelola 1,7 sampah popok. Dibuat berbagai produk. Termasuk temannya yang membuat lilin aromaterapi tadi.

Selain pot, isi popok tersebut diolah menjadi gantungan kunci, gel dan pupuk organik cair. “Untuk pembuatan popok, kalau isinya sudah kosong, saya cuci, kasih klorin dan disinfektan lalu saya jemur. Setelah kering baru saya bawa pulang ke rumah untuk dibuat pot. Pakai cetakan. Juga dilapisi semen biar kuat,” katanya lagi.

Bayu menceritakan, gantungan kunci itu dibuat karena sampah yang dihasilkan dari pot mini itu sudah tidak bisa digunakan. Tetapi, ia tidak mau membuang. Sehingga, ia mencoba cari cara untuk kembali mengolah sisa potongan itu.

“Saya lihat-lihat di YouTube ada pembuatan gantungan kunci. Akhirnya, saya buat gantungan kunci. Silikonnya saya beli di online. Lalu, saya olah sisa potongan popok itu untuk jadi gantungan kunci,” ucapnya.

BACA JUGA: RSI: Minyak Sawit Jadi Kunci Kemandirian Pangan dan Energi Indonesia

Semua produk itu sudah dijualnya. Ada yang dijual di e-commerce, melalui sekolah dan sosial media Bayu. Dikirim sampai ke luar pulau Jawa. Ada di Kalimantan dan Sulawesi. Pernah juga dibeli oleh PT Monex Investindo Futures dan Bank Sampah Induk Surabaya untuk jadi suvenir hari ibu.

“Beberapa sekolah juga ada yang pesan untuk acara mereka. Mungkin total semua hasil penjualan sekitar Rp 8 juta. Saya sudah lakukan ini sejak tahun kemarin. Hasil penjualannya tidak pernah dicatat ibu. Tapi, bisa buat ditabung untuk saya sekolah,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: