Pedagang Tanah Abang Tertekan Akibat Penurunan Pendapatan dan Persaingan Online

Ardino Putra sedang menyiapkan pesanan pelanggan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis 6 Maret 2025.-BAY ISMOYO / AFP-
HARIAN DISWAY - Di lantai lima Pasar Tanah Abang, Jakarta, pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu, Toni Sar mengangkat amplop putihnya. Tanda menyerah. Ia menunjukkan sejumlah kios yang terpaksa tutup akibat bisnis yang semakin lesu.
“Banyak yang sudah tidak kuat lagi. Mereka sudah tidak bisa bertahan,” ungkap pria 49 tahun itu. Selama ini, ia menjual produknya ke 27 provinsi di Indonesia. Ia menerima pemesanan melalui telepon dan pos.
Di Pasar Tanah Abang, pemberitahuan penutupan sementara akibat gagal bayar sewa tampak ditempel pada pintu-pintu kios yang tertutup. Sementara itu, para pekerja Toni sibuk mengemas pakaian Muslim yang akan dikirimkan kepada pelanggan di berbagai daerah di Tanah Air.
Biasanya, bulan Ramadan menjadi waktu yang sangat menguntungkan bagi bisnis. Terutama bagi mereka yang menjual busana Muslim, kerudung, dan aksesorisnya. Namun, para pedagang di pasar besar itu harus mengeluh kali ini.
BACA JUGA:Strategi Jitu E-Commerce Ini Raih Kepuasan Tertinggi Pembeli Hingga Penjual, Brand Lokal, dan UMKM
Ramadan tahun ini tidak membawa dampak positif seperti biasanya. Perlambatan ekonomi pascapandemi serta dominasi platform belanja daring dianggap menjadi penyebab utama.
Menurut Toni, pendapatannya menurun hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. “Kami hanya bisa berharap yang terbaik,” katanya. Ia berharap, penjualan akan meningkat menjelang perayaan Idulfitri di akhir Ramadan.
Pedagang lainnya, Ardino Putra, 33, juga mengeluhkan penurunan penjualannya. Biasanya, omzet mencapai Rp 2,5 miliar. Kini hanya Rp 2 miliar rupiah.
Dengan kondisi seperti ini, seharusnya biaya sewa dan biaya layanan dikurangi. Sebab, penjualan menurun drastis. “Mungkin ini karena faktor ekonomi. Mungkin juga karena pengaruh toko online,” jelasnya.
Ketika dilantik, Presiden Prabowo Subianto menjanjikan peningkatan status Indonesia menjadi negara maju. Pertumbuhan ekonomi ditarget delapan persen dari yang sebelumnya hanya lima persen.
BACA JUGA:Inilah Hasil Riset IPSOS! Shopee Jadi E-Commerce yang Paling Direkomendasikan Konsumen
Namun, prospek ekonomi masih belum pasti. Terutama setelah Bank Indonesia terpaksa menurunkan suku bunga pada Januari 2025. Hal itu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menguatkan nilai rupiah yang melemah.
Dalam situasi yang penuh tantangan tersebut, pasar tradisional secara ironis justru menjadi sumber barang bagi toko-toko daring. Bahkan menarik penjual dari luar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: