Rayakan Hari Bumi 2022, Lions Club Victoria Bikin Workshop Olah Ampas Kopi

Rayakan Hari Bumi 2022, Lions Club Victoria Bikin Workshop Olah Ampas Kopi

BARISTA PROFESIONAL Octa Thio memeragakan cara menyeduh kopi dalam workshop yang digeber Lions Club Surabaya Victoria di Ciputra World Surabaya, Minggu lalu (24/4). -Faizal Pamungkas-Harian Disway-

SUDAH lama kopi menjadi minuman kesayangan masyarakat Indonesia. Kopi kali pertama dibawa Belanda pada 1969. Sejak itu budi daya tanaman kopi terus berkembang di nusantara. Hingga kini, penggemarnya tidak pernah habis. Malah makin bertambah. Dengan cara menikmati yang kian beragam. 

 

Saat ini, tingkat kegandrungan publik terhadap kopi mendorong coffee shop kian menjamur. Kendati begitu, ada beberapa hal yang mungkin terlewat dalam mengelola bisnis kopi. Yakni, soal tata kelola ampas kopi. Jika dibuang begitu saja, ampas kopi yang mengandung kafein tinggi dapat menjadi racun bagi lingkungan.

 

Demi memperingati Hari Bumi 2022 yang jatuh pada Jumat lalu (22/4), Lions Club Surabaya Victoria menggelar workshop dan talk show bertajuk The Journey of Coffee Minggu lalu (24/04). Dalam acara yang merupakan bagian dari perayaan hari jadi Lions Club Surabaya Victoria yang ke-18, mereka menghadirkan Octa Thiodorus. Seorang SCA Certified Professional Barista.

 

Octa tidak hanya memperkenalkan cara membuat macam-macam kopi yang benar. Dia juga menuturkan tentang cara memanfaatkan ampas kopi. Menurut dia, ampas kopi tidak boleh dibuang begitu saja. ’’Karena apa yang kita ambil dari bumi wajib kita kembalikan lagi ke bumi,’’ tutur Octa.

 

Kalau dari kopi yang diseduh sendiri, kita bisa memanfaatkannya sebagai masker wajah. Ampas kopi dicampur dengan gula merah dan coconut oil. Perbandingannya 1:1:1 sendok. Bahan-bahan tersebut tinggal disatukan di dalam jar, atau wadah apapun. Kemudian diaduk rata. Langsung diaplikasikan ke kulit.

 

Nah, ampas kopi dalam jumlah besar yang biasanya banyak dijumpai di coffee shop butuh perlakuan berbeda. Limbah tersebut dapat diolah menjadi kompos. Berbeda dengan membuat masker, memproses ampas kopi menjadi kompos lebih banyak membutuhkan persiapan bahan tambahan dan perlengkapan.

 

Bahan-bahan yang dibutuhkan, antara lain, pupuk kandang, decomposer, dan dolomite (jenis batuan kapur yang dapat memberi manfaat terhadap kesuburan tanah). Itu semua bisa ditemukan di toko-toko pertanian. Bahan pelengkap lainnya adalah gula dan air.

 

’’Langkah pertama, kita kumpulkan ampas kopi yang dimasukkan ke dalam bak-bak pengomposan. Siapkan dulu bak-baknya sebelum membuat kompos,’’ jelas dia. Setelah kopi dimasukkan ke dalam bak pengomposan, tambahkan pupuk kandang. Lalu taburkan dolomite, gula, decomposer, serta air.

 

Selanjutnya, semua komponen dan bahan yang telah ditambahkan tadi ditumpuk di dalam bak dengan kedalaman minimal 75 cm. Setiap 2 minggu sekali, bahan diaduk dan dibalik. Perhatikan juga kelembaban bahan. Jika terlalu kering, kita bisa menyiramnya dengan air.

 

’’Normalnya, kompos akan jadi dalam kurun waktu 2-3 bulan. Dan jika sudah jadi kompos dapat diaplikasikan ke tanaman,’’ jelas Octa, yang pernah menjadi duta Kopi Indonesia 2020. (Retna Christa-Zahwa E. Bella)

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: