Investigasi BBC Ungkap Penjual Konten Kekerasan Seksual Anak Beroperasi di Indonesia

Ilustrasi aksi pelacakan terhadap penjual konten pelecehan seksual anak.--
HARIAN DISWAY - British Broadcasting Corporation (BBC) Indonesia mempublikasikan laporan investigasi yang mengungkapkan bahwa penjual konten pornografi anak sedang beroperasi di Indonesia pada 25 Agustus 2025.
Seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual ketika dirinya masih berusia 13 tahun, memohon kepada Elon Musk, pemilik media sosial X (Twitter) agar menghentikan dan menghapus peredaran tautan yang berisi foto-foto dirinya yang tengah dilecehkan di platform media sosial X.
Dalam laporannya, korban yang diberi nama samaran Zora menyatakan bahwa dia memiliki trauma panjang akibat foto-foto yang masih tersebar.
BACA JUGA:Polisi Pastikan Tak Ada Kekerasan Seksual sebelum Sevi Dibunuh
BACA JUGA:Kasus Kekerasan Seksual di RSHS, Komisi IX DPR Soroti Kegagalan Sistemik Dunia Kedokteran
"Mendengar bahwa kekerasan seksual yang saya alami dan yang dialami banyak orang lain masih beredar dan diperjualbelikan membuat saya marah," kata Zora.
"Setiap kali seseorang menjual atau membagikan foto dan video kekerasan seksual pada anak, mereka secara langsung menghidupkan kembali peristiwa pelecehan yang semula dan mengerikan itu,” kata Zora.
Untuk melacak pemilik akun X yang memperjual belikan kasus pelecehan seksual terhadap anak, BBC bekerja sama dengan Anonymous yang merupakan sebuah kelompok hacktivist internasional yang terkenal melakukan aksi siber untuk menentang ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi.
BACA JUGA:Edukasi Sejak Dini, Kunci Mencegah Kekerasan Seksual
Investigasi BBC dan Anonymous menemukan bahwa salah satu pelaku yang menjual konten eksploitasi tersebut berasal dari Indonesia dengan menawarkan penjualan “paket VIP”, yang berisi foto dan video kekerasan seksual yang dapat di jual ke pedofil di seluruh dunia.
Aktivis di Anonymous menjelaskan kepada BBC bahwa sang penjual dicurigai memiliki lebih dari 100 akun dan mengaku bahwa sang penjual memiliki ribuan video dan foto kekerasan seksual pada anak.
"Saya sudah berusaha selama beberapa tahun belakangan untuk mengatasi masa lalu saya dan tak membiarkannya memengaruhi masa depan saya. Tapi para pelaku dan penguntit masih saja menemukan cara untuk melihat hal menjijikkan ini," ujar Zora.
Lindungi mereka yang tak bersuara. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak!--
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: