Teater Gapus Pentaskan Endgame, Bentuk Protes Sosial melalui Karya Teater

Teater Gapus mementaskan naskah Endgame karya Samuel Beckett-instagram @teatergapus_sby-
“Tak ada yang lebih lucu daripada ketidakbahagiaan,” ujar Nell, sebuah kalimat yang menyoroti ironi hidup: penderitaan bisa mengundang tawa pahit.
Sosok Samuel Beckett, penulis naskah -Roger Pic. -Wikimedia Commons
Dengan panggung yang minimalis dan dialog repetitif, "Endgame" menjadi cermin masyarakat yang terjebak dalam kebuntuan politik dan sosial.
Pementasan itu sekaligus sebagai ajakan untuk berpikir: apakah kita rela membiarkan kondisi stagnan berlarut-larut, ataukah kita berani mengambil langkah kecil untuk berubah?
Kedekatan Karakteristik dalam Endgame dengan Kehidupan Sehari-hari
1. Kesadaran diri
Seperti Clov, banyak dari kita menjalani rutinitas tanpa bertanya “untuk apa?,” padahal kesadaran kecil dapat mengubah arah hidup.
2. Kritik sosial yang membangun
Seperti Hamm, kekuasaan apa pun, besar atau kecil, bisa membuat seseorang lupa mendengar.
BACA JUGA:Kelas Penulisan Prosa dan Puisi Teater Gapus Hadirkan Penyair dan Prosais Top
Sebagai warga, Anda berhak mengingatkan pemimpin, bahkan di lingkup keluarga atau komunitas.
3. Menghadapi absurditas hidup
Beckett mengajarkan bahwa humor bisa lahir dari kesedihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tawa bisa menjadi bentuk keberanian menghadapi masalah, bukan sekadar pelarian.
BACA JUGA:Negara Bukan Tujuan, Pancasila Jadi Wasilah Mewujudkan Keadilan
Pementasan "Endgame" oleh Teater Gapus membuktikan bahwa seni bisa menjadi sarana protes sosial yang kuat sekaligus elegan.
Dengan menggabungkan realitas masa kini dan fiksi masa depan, karya itu mengajak penonton merenungkan posisi mereka di tengah siklus kekuasaan dan ketidakpastian.
Anda tidak hanya diajak menonton. Tetapi juga untuk bertanya: apakah kita sedang duduk diam menunggu “akhir permainan,” atau bergerak untuk mengubahnya? (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: