Tragedi Affan, Luka Kemanusiaan

ILUSTRASI Tragedi Affan, Luka Kemanusiaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ADA kalimat klasik dari filsuf Yunani, Plato, yang patut kita ingat: ”Hukum adalah tatanan akal, bukan nafsu. Bila Hukum tunduk pada nafsu, maka ia berhenti menjadi Hukum.”
Apa yang baru saja terjadi di Jakarta, ketika seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan, 21 tahun, tewas karena dilindas mobil rantis Brimob, bukan sekadar kecelakaan. Itu adalah pengkhianatan terhadap hukum dan kemanusiaan.
Affan bukan demonstran. Ia bukan provokator. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah, mengantarkan pesanan pelanggan, saat jalanan macet akibat ricuh di sekitar DPR.
BACA JUGA:Driver Ojol Gelar Aksi Seribu Lilin di Mapolda Jatim untuk Affan Kurniawan
BACA JUGA:Affan Tak Ikut Demonstrasi, Tewas Dilindas Rantis Brimob saat Antar Pesanan Makanan
Namun, hidupnya direnggut begitu saja oleh roda besi negara yang seharusnya melindungi. Detik-detik tubuh mudanya dilindas mobil rantis terekam jelas, viral, dan menorehkan luka mendalam di hati publik.
LUKA KEMANUSIAAN
Bayangkan keluarga Affan, seorang ibu yang kini harus merelakan anaknya pulang hanya sebagai jenazah. Bayangkan ayahnya yang mungkin selama ini menganggap anaknya penopang keluarga, kini hanya bisa menatap nisan.
Kita seakan-akan kembali ke masa kelam, saat aparat kehilangan nurani dan rakyat kecil jadi korban benturan negara dengan rakyatnya sendiri.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Takziah ke Rumah Affan Kurniawan
BACA JUGA:Pandji Pragiwaksono Ikut Kecam Kematian Affan Kurniawan
Kapolri tidak bisa lagi sekadar minta maaf, menyebut itu ”musibah”. Itu adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan mata, dengan wajah institusi kepolisian tercetak jelas sebagai pelaku.
Pun, dalam tragedi seperti ini, pimpinan tertinggi tidak cukup hanya meminta maaf. Pimpinan tertinggi harus berani mengambil tanggung jawab penuh.
KRITIK UNTUK KAPOLRI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: