Wajib Belajar 13 Tahun, Mengapa Tidak?

Wajib Belajar 13 Tahun, Mengapa Tidak?

ILUSTRASI Wajib Belajar 13 Tahun, Mengapa Tidak?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ke depan pun kita dapat melihat generasi muda yang cakap, berdaya saing, dan bermoral. Pun, akan muncul SDM unggul yang bisa mengisi sektor industri, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif. 

Dengan demikian, Indonesia naik kelas dari negara berkembang menuju negara maju.

KAPAN KITA SIAP?

Dengan berbagai pertimbangan dan kajian di atas, wajib belajar 13 tahun bukan sekadar perpanjangan masa duduk di bangku sekolah, melainkan proyek besar membentuk manusia seutuhnya, baik secara intelektual, moral, emosional, sosial, maupun kultural. 

Itu adalah investasi jangka panjang untuk menjamin kemajuan bangsa yang adil, sejahtera, dan berkeadaban. Wajib belajar 13 tahun bukan sekadar ambisi pendidikan, melainkan kebutuhan mendesak dalam menyongsong era persaingan global yang kian kompleks. 

Menunda penerapannya berarti membiarkan jutaan anak muda Indonesia kehilangan masa depan. Bahkan, hilangnya Indonesia. Maka, pertanyaannya bukan lagi ”perlukah?”, melainkan ”kapan kita siap?”. 

Jika Korea Selatan bisa memulainya pada dekade 1980-an dan Vietnam sudah melangkah dengan kebijakan serupa pada awal 2000-an, mengapa Indonesia tidak bisa memulainya sekarang? Wallahu a’lam. (*)

*) Bahrus Surur-Iyunk adalah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Paciran, Lamongan, dan kepala SMA Muhammadiyah I Sumenep 2013–2020.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: