Meraba Wajah Prostitusi di Surabaya Saat Ini
ILUSTRASI Meraba Wajah Prostitusi di Surabaya Saat Ini.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
GRISIKEN (tergelitik: bahasa Jawa dialek Surabaya) rasanya melihat fenomena tentang kehadiran prostitusi digital di Surabaya akhir-akhir ini. Meski bukan hal baru, rasa-rasanya itu tak akan pernah usang untuk dikaji ulang.
Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia telah mengalami transformasi ruang, ekonomi, dan budaya yang begitu cepat dalam dua dekade terakhir. Transformasi digital telah mengubah cara warga kota dalam menjalani hidup, bekerja, dan berinteraksi.
Modernisasi kota dan perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga memunculkan konfigurasi baru praktik sosial di masyarakat.
BACA JUGA:Dolly Tutup, Prostitusi Online Tumbuh: Surabaya Hadapi Wajah Baru Praktik Seks Komersial
Perubahan itu tidak hanya berdampak pada sektor formal, tetapi juga pada ekonomi nonformal dan praktik sosial marginal seperti prostitusi.
Dari kacamata sosioantropologis, prostitusi bukan sekadar ”penyimpangan moral”, melainkan juga sebuah fenomena sosial yang berkelindan dengan dinamika urbanisasi, struktur ekonomi, relasi gender, dan perubahan budaya kelas menengah di kota.
Salah satunya adalah fenomena ”wajah baru” prostitusi –sebuah bentuk adaptasi ekonomi seksual yang bergerak dari ruang-ruang teritorial menuju ruang digital dan relasional.
BACA JUGA:Sosiolog Unair Sebut Prostitusi di Surabaya Sulit Diberantas, Hanya Ganti Modus!
BACA JUGA:Menelisik Lokalisasi Surabaya yang Menggeliat Lagi, Media Sosial Sarang Prostitusi
Penutupan beberapa lokalisasi besar seperti Dolly, Jarak, dan Moroseneng pada 2014 sering dianggap sebagai tonggak kemenangan moral dan ketertiban kota. Namun, secara antropologis, penutupan ruang prostitusi tidak serta-merta menghapus praktiknya alias hanya menggeser ekosistem sosialnya.
DARI RUANG TERITORIAL KE RUANG DIGITAL
Menurut Henri Lefebvre, kota bukan sekadar wadah aktivitas sosial, melainkan juga produk sosial yang tercipta melalui relasi ekonomi, politik, dan budaya. Ruang kota terdiri atas tiga dimensi utama: spatial practice, representations of space, dan representational space.
Ketika Pemkot Surabaya menutup Dolly, tindakan tersebut dapat dilihat sebagai upaya memproduksi ”ruang resmi” kota yang bersih dan bermoral.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: