Dalam Satu Tanah, Kita Bertumbuh: Suara tentang Indonesia di Bentara Budaya
ILUSTRASI Dalam Satu Tanah, Kita Bertumbuh: Suara tentang Indonesia di Bentara Budaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Vendy mungkin membayangkan bahwa sejarah 80 tahun Indonesia adalah warisan lama ”sang kakek” dalam pengertian generasi terdahulu yang memberikan ”tongkat estafet” yang tak selalu baik.
Coba kita lihat koherensi lukisan dan karya found object bantal tersebut dengan saksama. Lukisan yang bergambar komikal ”celeng/babi hutan” menaiki tempat tidur bergaris hitam kasurnya dan ia mengais-ngais lokasi tertentu di atas bantal.
Segera saja konstruksi tentang judul dua karya, celeng, binatang yang ”kurang-ajar” menaiki kasur adalah gambaran paras kita sendiri, mungkin saja harta-kekayaan kita, sejatinya bukan uang? Namun, etika yang entah ke mana hilang karena warisan ”kolonial dan feodalisme” yang terus saja diwariskan?
Yang tak kalah menggedor adalah milik seniman senior Setiyoko Hadi, dengan ”Sarang Penyamun, Sarang Penyayang”, tahun 2025 dengan ukuran kanvas 100 x 120 cm dengan instalasi seni bermateri ranting, sarang, dan telur burung.
Sebagaiman katanya dalam wawancara dengan penulis, ”saya menggambarkan tanah yang kehilangan ’napas’-nya di Pulau Kalimantan, saya sering bertandang ke sana bersama istri yang bekerja di sana, rasa sayang manusia memelihara hutan menguap entah ke mana.”
”Batang-batang pohon tumbang serta langit menua karena rusaknya habitat burung enggang, yang mana dalam lukisan dan instalasi saya melambangkan pulau Kalimanta adalah ’sarang penyamun’ dengan sisa-sisa pohon dan sarang burung.”
”Di sana, sungguh tempat para perusak lingkungan ekologis, sekaligus lukisan saya menerakan jejak-jejak harapan di masa depan, masih ada rasa kasih-sayang; yang mungkin berasal dari generasi penerus kita? Tentu, dengan simbol burung-burung yang terbang dan ’doa’ bagi telur-telur yang akan menetas kelak,” imbuh Setiyoko.
Pelukis itu dengan cakap memakai bahasa visual realis, menampilkan bencana ekologi lantaran ulah manusia –man made disaster, yang disambung narasinya lukisannya, dengan cara setengah berbisik ke telinga penulis, ”Mas, jika Anda peka, ada lapisan tipis di latar lukisan tentang gambaran IKN itu, cuman samar-samar ya!” sambung Setiyoko kepada penulis sedikit harap-harap cemas.
Saat sama, pameran menampilkan juga kaligrafi kontemporer dengan menampilkan figur burung Phoenix yang elok, yang khusyuk mengutip kalam Allah SWT dalam kitab sakral Al-Qur’an dari karya Munna Dianur, tentang ayat indah At-Taubah:80, ”Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah SWT bersama kita” dengan judul karya I was Born in A New Silence, 100 x 130 cm di atas kanvas.
Munna piawai merealisasikan ”Doa” sebagai harapan tertanam dalam diri dengan karya komposisinya enak dilihat dan tertata rapi, yang ia mengaku melihat begitu banyak kerusakan yang terjadi di Indonesia sebagaiman ungkapnya dalam caption karya seninya ”figur burung phoenix muncul dari warna merah, oranye, dan kuning sebagai lambang kelahiran baru dari sesuatu kerusakan”.
Optimisme melabur pula di pameran itu dengan karya yang mengingatkan kita sejarah lama tentang seni abstrak model Barat, yang tentunya sangat subjektif diungkap oleh seniman Walid Basalamah dengan karyanya, Optimisme Geometrik, karya cetak saring di kertas dari pengajar di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) itu yang berukuran 60 x 40 cm.
Walid mengungkapkan, ”karya saya ini semata-mata menempatkan tanah air sebagai ruang spiritual dan sosial untuk bangsa kita menanamkan harapan dan menyusun kembali makna kehidupan dengan style abstract-geometric tentunya, yakni: ’karya saya ini simbol ketahanan dan keseimbangan di tengah kesenjangan’,” ujar Walid optimistis.
Walid menggugah kita warisan seni Barat dan tata ekspresi abstrak geometric tentu dengan kekuatannya sendiri, dari pegrafis ini, kita belajar menguarkan semangat tetap peduli pada negeri.
Karya-karya abstrak sejenis, yang sublim dari seniman lainnya, semisal pematung dan pelukis Alfiah Rahdini, dengan Sanguine Peach and Slow Gold, 60 x 40 cm, akrilik di atas kanvas, yang mengirimkan khusus konsep berkaryanya kepada penulis.
”Karya saya gambaran pertemuan multikultural yang meresap dalam kehidupan sehari-hari dalam sejarah era Nusantara klasik yang terwakili dengan warna gold sebagai yang dikatakan slow gold, juga warna kontemporer ’sanguine peach’ itu,” ujar Alfiah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: