Relawan Tiongkok Kesulitan Cari Korban Banjir Aceh
Wacana netizen untuk patungan membeli hutan mencuat di media sosial, sebagai bentuk keprihatinan atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara-Istimewa-
HARIAN DISWAY - Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) ungkap kendala besar yang dihadapi tim relawan Tiongkok dalam operasi pencarian korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.
Timbunan material kayu dan lumpur yang terbawa arus banjir menjadi menjadi kendala utama dalam upaya mereka melanjutkan proses penyisiran korban.
“Hasil kerja mereka tidak maksimal karena medan masih digenangi oleh kayu-kayu,” ujar Gubernur Aceh Mualem dalam konferensi pers di Banda Aceh, Rabu malam, 10 Desember 2025, sesaat setelah pemerintah memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi.
Kelima relawan China tersebut sebelumnya tiba di Banda Aceh pada Sabtu pekan lalu, 6 Desember 2025 dan disambut langsung oleh Mualem di Pendopo Gubernur Aceh.
BACA JUGA:Update: Korban Banjir dan Tanah Longsor Sumatera menjadi 990 Jiwa
BACA JUGA:Wujud Peduli dan Empati, SIER Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Sumatera
Mereka membawa perangkat pelacak jenazah yang dirancang untuk membantu pencarian di area yang tertutup lumpur dan puing.
Kehadiran tim relawan ini merupakan bentuk dukungan China kepada Pemerintah Aceh, bukan bagian dari skema bantuan resmi antarnegara.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya menegaskan bahwa bantuan tersebut diberikan secara personal kepada Mualem. Hal itu, tambahnya, tidak mengubah komitmen pemerintah pusat untuk tetap menangani mayoritas operasi bencana menggunakan sumber daya nasional.
Penugasan awal para relawan tersebut dilakukan di Aceh Utara, wilayah yang mengalami kerusakan terparah akibat banjir bandang yang menerjang wilayah itu beberapa waktu yang lalu.
BACA JUGA:Pertamina Laporkan Percepatan Distribusi Energi di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera
BACA JUGA:Indomaret Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumatra
Namun, kondisi medan lokasi yang dipenuhi batang pohon besar, serpihan bangunan, hingga endapan lumpur tebal membuat proses navigasi menjadi sangat lambat.
“Itu kewalahan mereka untuk mendapatkan mayat. Tapi saya dengar berita dua hari dia turun sudah dapat beberapa orang di Aceh Utara,” kata Mualem menjelaskan perkembangan hasil penyisiran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: