Keumatan Musibah dan Musibah Keumatan
ILUSTRASI Keumatan Musibah dan Musibah Keumatan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KESADARAN bisa muncul dari internal dan eksternal. Kesadaran yang muncul dari faktor internal itu tumbuh dan berkembang saat basis kognitif mengalami proses pendalaman dan pembatinan.
Lalu, proses pembatinan itu berjalan konsisten hingga melahirkan sebuah pemahaman yang mendalam atas sesuatu. Nah, dari pemahaman mendalam itulah, kemudian lahir kesadaran atas pentingnya sesuatu itu.
Namun, tidak semua kesadaran tersebut bisa lahir oleh faktor internal. Faktor eksternal tidak kalah pentingnya untuk bisa menjadi faktor bagi tumbuhnya sebuah kesadaran itu. Ia datang dan tumbuh karena desakan dari luar ke dalam.
BACA JUGA:Bonus Demografi di Era Indonesia Emas 2045, Berkah atau Musibah?
BACA JUGA:50 Orang Tewas Dalam Musibah Banjir Bandang Lahar Dingin Sumbar, 3.396 Jiwa Mengungsi
Pada sebagian orang, bisa saja kesadaran itu muncul karena adanya unsur kenikmatan di dalamnya. Namun, sering pula terjadi bahwa kesadaran itu muncul karena adanya musibah. musibah atau keterpanaan tersebut bisa menjadi pemicu dan sekaligus faktor paling utama yang melatarbelakangi munculnya sebuah kesadaran itu.
Nah, apa yang terjadi dengan musibah Sumatera dalam bentuk banjir bandang dan longsor yang melintasi tiga provinsi besar mulai Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara adalah musibah kemanusiaan.
Tidak ada isu agama di situ. Pula, tidak ada isu kesukuan di sana. Tidak juga ada isu tentang gender di sana. Sebab, musibah itu adalah isu kemanusiaan. Korbannya melintasi semuanya.
Karena itulah, penting dimunculkan konsep keumatan musibah dan musibah keumatan. Mengapa penting disebut sebagai keumatan musibah? Musibah tersebu terjadi karena bertemunya perubahan alam yang ditunjukkan dengan kejadian meluapnya air atau banjir bandang, dan itu yang sering disebut dengan hidrometeorologi.
Namun, perubahan alam itu juga bertemu dengan praktik culas manusia. Apa yang bisa kita saksikan bersama-sama dengan merebaknya pembalakan liar dan pertambangan liar di balik bencana itu menjelaskan bahwa ada campur tangan kotor manusia di balik musibah yang terjadi.
Hanya, apa pun analisis faktornya, kejadian yang menimpa korban lintas Sumatera di atas adalah bencana kemanusiaan. Karena itu, bencana yang menyasar semua individu dan golongan di atas adalah musibah kemanusiaan.
Jika boleh dibunyikan dengan ungkapan lain, musibah itu telah menimpa lintas batas golongan dan kelompok sosial, termasuk etnis dan keyakinan agama. Karena itu, dimensi lintas yang dilaluinya, musibah tersebut bisa diilustrasikan dengan istilah keumatan musibah. Yakni, musibah yang sudah melintasi batas identitas kemanusiaan.
Menteri agama dalam pembukaan lokakarya dan rapat kerja nasional Kementerian Agama RI (14–17 Desember 2025) mengingatkan kepada kita semua tentang makna esensial dari kata umat. Kata umat terambil dari kata al-umm yang berarti sumber kasih sayang. Dari kata yang sama itulah, kemudian muncul kata al-imam dan al-makmum. Maka, di sana muncul pula istilah al-imamah, yakni kepemimpinan.
Jadi, substansi yang dikandung kata umat itu diikat oleh rasa kasih sayang sebagai sesama anak manusia yang sekaligus membutuhkan adanya kepemimpinan sosial di antara mereka. Nah, karena itulah, diksi keumatan diikat juga oleh nilai yang sama. Yakni, kemanusiaan dan kasih sayang sebagai anak manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: