Keumatan Musibah dan Musibah Keumatan
ILUSTRASI Keumatan Musibah dan Musibah Keumatan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Maka, yang terjadi, meminjam bahasa Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar, musibah yang terjadi di Sumatera adalah musibah keumatan.
Karena itu, yang penting untuk didorong ke depan adalah penguatan nilai kasih sayang yang sama yang mengikat kita di Surabaya, Denpasar, Makassar, Jakarta, dan seterusnya dengan saudara-saudara kita yang berada di lintasan Sumatera itu dengan ikatan yang sama.
Yakni, ikatan kemanusiaan dan kasih sayang sebagai satu manusia ini menjadi catatan penting bagi kehidupan kita semua.
Maka, saat muncul musibah keumatan seperti di atas, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan sosial. Nama lainnya adalah kepemimpinan keumatan. Maka, siapa pun kita dalam jenjang kedudukan apa pun, penting untuk menunjukkan kepemimpinan sosial secara sama. Kepentingannya adalah menjamin rasa kasih sayang itu tumbuh di kalangan korban musibah Sumatera secara partikular.
Nah, saat musibah Sumatera telah menembus batas keumatan seperti diuraikan di atas, tetapi sikap dan perilaku sesama di bagian lain wilayah negeri ini tak menunjukkan kuatnya empati, keumatan musibah itu telah menimbulkan musibah keumatan. Tanda-tandanya adalah minimnya kepemimpinan dan/atau kepeloporan sosial untuk menguatkan psikologis korban.
Keumatan musibah membutuhkan kepemimpinan dan/atau kepeloporan sosial. Di lingkungannya sendiri, setiap individu pelopor bersama-sama melakukan inovasi sekaligus kepeloporan sosial agar yang dialami korban di lintasan Sumatera bisa segera terselesaikan dengan baik.
Saat keumatan musibah itu bisa kita rasakan, lalu setiap kita bisa hadir dengan kepemimpinan sosial untuk membantu pemerintah dan warga masyarakat dalam menanganinya.
Maka dari itu, kehadiran kepemimpinan sosial itu sungguh diharapkan. Kepentingannya adalah membantu semua unsur masyarakat untuk saling menguatkan dan menyelesaikan musibah ini secara baik.
Karena itu, kita tentu tidak ingin bahwa keumatan musibah lalu bergerak menjadi musibah keumatan. Tanda-tanda dari musibah keumatan adalah kelengahan atas kemapanan yang dialami. Tak ada rasa kasih sayang atas korban. Tak lagi tumbuh empati terhadap korban.
Padahal, bukan hanya uluran tangan yang dibutuhkan. Alih-alih, juga diperlukan pikiran-pikiran jernih untuk bersama-sama menguatkan kepersaudaraan, kepersatuan sekaligus kemanusiaan di antara kita di titik mana pun di Indonesia dengan para korban di musibah Sumatera itu.
Tidak ada cara lain untuk memperkuat rasa kasih sayang kecuali bersama-sama memberikan uluran tangan dalam bentuk apa pun yang bisa kita lakukan untuk menjaga kemuliaan dan kemanusiaan kita bersama. Musibah yang terjadi di Sumatera adalah duka kita semua. Maka, musibah Sumatera adalah musibah keumatan.
Karena itu, dibutuhkan sikap dan praktik handarbeni untuk saling membantu, minimal menguatkan para korban. Itu semua agar tak ada musibah keumatan. (*)

*) Akh. Muzakki adalah rektor dan guru besar UIN Sunan Ampel, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: